Kasus DBD Masih Mengancam, Takeda Gelar ABCD Land untuk Edukasi Keluarga Indonesia
Menurut studi ilmiah terbaru Universitas Gadjah Mada (UGM), total beban ekonomi DBD diperkirakan mencapai hampir Rp9 triliun pada 2024, dengan lebih dari 2 juta kasus rawat inap.
Di sisi lain, urgensi pencegahan DBD juga meningkat seiring perubahan iklim dan pola cuaca yang semakin tidak menentu.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi suhu udara dan curah hujan, sehingga berpotensi memperluas habitat nyamuk serta mempercepat siklus hidup Aedes aegypti.
“Perubahan iklim dan pola cuaca yang semakin tidak menentu berpotensi meningkatkan risiko penyebaran DBD. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah pencegahan sejak dini,” ujar Prima.
Ia menjelaskan, pemerintah telah merumuskan Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021–2025 dan tengah mengembangkan Rencana Aksi Nasional dengan pendekatan komprehensif.
Upaya tersebut mencakup edukasi masyarakat, pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M Plus, hingga pemanfaatan berbagai inovasi pencegahan, termasuk vaksinasi.
Di Jakarta, tantangan pengendalian DBD juga masih besar. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, drg. Ani Ruspitawati, M.M., menyebutkan hingga 15 Juni 2026 terdapat 5.700 kasus infeksi dengue di DKI Jakarta.
Angka ini menunjukkan bahwa DBD masih menjadi ancaman nyata bagi warga Jakarta, terutama di wilayah dengan mobilitas dan kepadatan penduduk yang tinggi.
Kasus DBD masih mengancam, PT Takeda Innovative Medicines menggelar kegiatan edukasi publik.
- Gandeng 100 Kader Jumantik, Soffell Edukasi Pencegahan DBD di Mampang Prapatan
- Hadir di ASEAN Dengue Day, Soffell Beri Edukasi Pencegahan DBD
- Anak-Anak Kembali ke Sekolah, Ancaman DBD Mengintai, Waspadalah!
- Weda Bay Medical Center Perkuat Pencegahan DBD untuk Lindungi Kesehatan Pekerja
- Takeda Borong Penghargaan di PR Indonesia Awards 2026, Tiga Tahun Beruntun
- Lawan DBD, Takeda, IFRC & PMI Luncurkan Aliansi United Against Dengue di Indonesia
JPNN.com




