Kebakaran Hutan Bisa Diantisipasi Jika Pemerintah Tidak Abaikan Data Ilmiah
Artikel ini diproduksi ABC Indonesia
Kebakaran hutan dan lahan, atau karhutla, kembali terjadi di sejumlah wilayah Indonesia pada musim kemarau tahun ini, mulai dari Kalimantan, Sumatra, hingga Papua Selatan.
Peningkatan titik panas terpantau seiring kondisi cuaca yang lebih kering akibat El Niño yang menurut BMKG masih berpotensi berlanjut hingga akhir tahun.
Berdasarkan data Sistem Monitoring Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan, luas area terdampak dari awal tahun hingga Juli 2026 sudah mencapai 202.004 hektare.
Angka tersebut meningkat dari sekitar 107.465 hektare pada akhir Juni, dengan tambahan hampir 95.000 hektare lahan terbakar hanya sepanjang Juli.
BNPB juga mencatat peningkatan hotspot di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatra.
Sampai Rabu pekan lalu (26/08), BNPB melaporkan Kalimantan Tengah mencatat 3.947 hotspot, Kalimantan Barat 2.812 hotspot, dan Kalimantan Selatan 1.079 hotspot, yang secara keseluruhan naik lebih dari 1.300 hektar dibanding tahun 2025.
'Bencana' yang bisa dicegah?
Menurut Greenpeace Indonesia, kondisi kebakaran hutan dan lahan di Indonesia tidak datang tiba-tiba.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di sejumlah kawasan di Kalimantan, Sumatera, hingga Papua Selatan, yang berpotensi berlanjut hingga akhir tahun
- Pria Australia Mengakui Membunuh Perempuan Indonesia di Melbourne
- Polres Siak Amankan 2 Alat Berat di Lokasi Karhutla, Selidiki Pembuka Lahan
- DPR Dorong Penanganan Terpadu Karhutla dan Kebencanaan Lintas Kementerian
- Karhutla Kawah Ijen Berangsur Berkurang, Tim Gabungan Sisir Sisa Titik Api di Jalur Pendakian
- Bakom Sebut Prabowo Sudah Mengurus Masalah Dalam Negeri Sebelum ke Rusia
- Polda Riau Kerahkan Drone Canggih untuk Deteksi dan Padamkan Karhutla di Siak
JPNN.com




