Kebakaran Hutan Bisa Diantisipasi Jika Pemerintah Tidak Abaikan Data Ilmiah

Kebakaran Hutan Bisa Diantisipasi Jika Pemerintah Tidak Abaikan Data Ilmiah
Kebakaran Hutan Bisa Diantisipasi Jika Pemerintah Tidak Abaikan Data Ilmiah

"Kami sebenarnya tidak suka mengatakan ini bencana, karena kalau bencana dianggapnya bencana alam. Padahal ini sesuatu yang bisa diantisipasi," kata Kepala Global Greenpeace untuk Kampanye Hutan Indonesia, Kiki Taufik, kepada ABC Indonesia.

Menurut Kiki, berbagai lembaga penelitian, termasuk Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sudah memperingatkan peningkatan risiko kebakaran tahun ini berdasarkan bukti-bukti ilmiah.

Profesor Erma Yulihastin, peneliti Pusat Riset Klimatologi dan Atmosfer di BRIN, dalam unggahannya di X menyebut "prediksi Super El Niño ini telah diketahui para ilmuwan sejak Maret 2026."

"Dan saya telah mendiseminasikan hal ini ke kementerian terkait agar bersiap-siap."

"Bank Indonesia pun telah menerima informasi berbasis ilmiah dan policy brief dari tim BRIN agar bersiap terhadap efek domino Super El Niño terhadap perekenomian bahkan hingga 2 tahun sesudah El Niño."

Laman Sekretariat Kabinet mencatat kerugian ekonomi akibat karhutla pada 2015 mencapai Rp220 triliun, dan bukan tak mungkin risiko ekonomi karhutla tahun ini juga mencapai angka tersebut.

Sebelumnya, Super El Niño pernah terjadi pada tahun 1982, 1997, dan 2015. 

Namun, tidak seperti sebelumnya, Super El Niño 2026 terjadi saat bumi sudah 1,5 derajat Celsius lebih panas, sehingga penelitan yang dini seharusnya diikuti oleh kesiagaan dan respon yang dini juga, ujar Profesor Erma.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di sejumlah kawasan di Kalimantan, Sumatera, hingga Papua Selatan, yang berpotensi berlanjut hingga akhir tahun

Sumber ABC Indonesia
JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News