Senin, 25 Juni 2018 – 05:02 WIB

Kebiasaan Potret Makanan Bisa Bantu Cegah Penyakit Pencernaan

Senin, 05 Maret 2018 – 10:00 WIB
Kebiasaan Potret Makanan Bisa Bantu Cegah Penyakit Pencernaan - JPNN.COM

Seberapa ingat apa yang Anda makan untuk sarapan kemarin? Apakah Anda pernah makan ayam dalam sepekan terakhir? dan apa yang Anda makan untuk Rabu siang lalu?

Seorang peneliti dari University of Queensland yang tinggal di kota Darwin, Australia Utara berharap kebiasaan memotret makanan, yang sepertinya menjadi obesesi banyak orang, dapat memperbaiki pencegahan penyakit saluran pencernaan yang semakin banyak diderita orang.

Campylobacter adalah salah satu bakteri penyebab infeksi yang paling sering ditemukan di Australia dan negara maju lainnya, tapi keragaman penyebabnya bisa mempersulit pencegahannya.

"Kebanyakan kita percaya bakteri ini disebabkan makanan yang terkontaminasi, itulah sebabnya mengapa kita memperhatikan apa yang dimakan orang-orang untuk kemudian mencari tahu seberapa akurat ingatan mereka soal apa yang dimakan," kata Liana Varrone, peneliti University of Queensland.

"Bakteri ini bisa menyebar melalui banyak hal, ini adalah bakteri yang sangat kuat."

Mereka yang berpartisipasi dalam penelitian Liana secara rutin telah memotret makanan mereka dan mengirimkan kepada dirinya, sebelum kemudian ingatan soal apa yang pernah mereka makan diuji.

"Saya mencoba meminta orang-orang mengirimkan foto-foto makanan selama tujuh hari pada saya dan kemudian saya akan mengajukan beberapa pertanyaan," kata Liana kepada Adam Steer dari ABC Radio Darwin.

"Saya ingin melihat seberapa baik mereka dalam mengingat apa yang pernah dimakan setelah dua hingga tiga minggu kemudian."

Pengujiian ini menjadi gambaran di dunia nyata untuk melihat apakah ada identifikasi faktor risiko yang benar, karenanya pertanyaan yang tepat diajukan.

Jika orang-orang berulang kali mendapat pertanyaan yang salah dalam sebuah penelitian, Liana mengatakan mereka kemungkinan juga menjawab salah dalam skenario klinis dan diagnosanya.

Sekitar separuh studi tentang 100 orang diet dan kenangan, banyak responden telah membuat sejumlah kesalahan dalam kuesioner mereka.

Skip Instagram Post

FireFox NVDA users - To access the following content, press 'M' to enter the iFrame.

Pertanyaan ditujukan untuk membuat kebijakan

Tahun 2006 di Selandia Baru bakteri jenis campylobacter mencapai tingkat tinggi pada pasokan unggas, hingga pihak berwenang untuk keselamatan makanan perlu meninjau standar pengamanan dan penyimpanan.

Dengan memperketat dan meningkatkan pengawasan ayam, tingkat infeksi menurun tajam selama dua tahun berikutnya.

Menurut Liana ini adalah bentuk contoh penelitian diagnostik yang berujung pada pengendalian penyakit yang efektif.

"Jika kita mengatakan ayam adalah masalahnya, padahal masalah sebenarnya ada pada anjing peliharaan atau hewan lain, maka kita menerapkan beberapa kebijakan berbeda soal jalur produksi ayam, padahal seharunya kita memberi tahu orang lain untuk lebih membersihkan tangan mereka setelah ada kontak dengan anjing."

"Saya berharap mendapatkan data bagus, yang artinya pertanyaan yang kami ajukan kepada orang benar-benar bermanfaat.

"Ini berarti faktor risiko yang kita katakan sebagai penyebabnya benar-benar menjadi penyebabnya."

Penelitian di era kegemaran memotret makanan

Penelitian Liana mengikuti model serupa yang diujicoba di Universitas Perth, di mana peserta mengirimkan foto makanan ke sebuah aplikasi sebelum menyantapnya.

Ia mengatakan potensi jejaring sosial untuk penelitian ilmiah ini cukup signifikan.

"Saya sudah memiliki banyak orang yang mengirim Snapchats ke orang-orang, dan kemudian mereka akan mengirimi saya Snapchat dengan sedikit keterangan apapun soal makanan."

"Jelas sudah ada orang yang memotret dan mengirimnya ke saya."

Kebanyakan partisipan dalam studi adalah dari golongan dewasa muda.
Kebanyakan partisipan dalam studi adalah dari golongan dewasa muda.

ABC: Brigid Andersen

Tapi pendekatannya memiliki keterbatasan, termasuk para partisipan dalam studi Liana yang cenderung mengarah pada orang-orang dewasa muda.

"Saya juga harus menyebutkan ada perbedaan besar antara pria dan perempuan dalam penelitian saya."

Selama berjam-jam memperhatikan makanan orang-orang, Liana mengaku jika dirinya sendiri pun diuji.

"Saya jadi lapar saat menganalisis foto-foto makanan dan saya menganalisa makanan yang mengguirkan yang dimasak orang-orang."

"Kemudian setelah saya memikirkan apa yang akan dimakan untuk makan malam, saya menjadi sangat depresi."

Simak beritanya dalam bahasa Inggris melalui tautan berikut.

 
SHARES
Komentar