Kepemimpinan Tenang dan Intelektual Khofifah Sebagai Fondasi Transformasi Kebijakan
Oleh: Dr Lia Istifhama, S.sos, S.Sos.I, S.H.I, M.E.I - Anggota DPD RI/MPR RI
jpnn.com, JAKARTA - Dalam lanskap politik nasional yang sering kali dinamis, riuh, bahkan keras, kehadiran figur pemimpin yang mampu membawa ketenangan sekaligus ketajaman berpikir menjadi sebuah kebutuhan krusial.
Realitas politik kita hari ini kerap diwarnai oleh polarisasi dan pragmatisme jangka pendek.
Di tengah situasi tersebut, Khofifah Indar Parawansa hadir sebagai antitesis: seorang figur yang menunjukkan bahwa konsistensi gagasan, keteguhan nilai, dan ketenangan emosional dapat menjadi kekuatan utama dalam membangun kebijakan publik yang berkelanjutan.
Gaya kepemimpinan ini sangat lekat dengan konsep Quiet Leadership (Kepemimpinan Sunyi) dari David Rock dan Susan Cain, sebuah tesis kepemimpinan yang membuktikan bahwa pengaruh terbesar tidak lahir dari kepemimpinan yang dominan secara agresif, melainkan dari kedalaman refleksi, mendengarkan secara aktif, dan ketenangan dalam mengambil keputusan strategis di tengah krisis.
Tepat pada hari ini, 19 Mei, saat beliau memperingati hari kelahirannya, momentum ini bukan sekadar refleksi bertambahnya usia, melainkan perayaan atas matangnya sebuah manifesto kepemimpinan yang telah didedikasikan bagi bangsa.
Sebagai anggota DPD RI, saya memandang Khofifah bukan sekadar sebagai politikus perempuan yang sukses meniti karier, melainkan sebagai sosok pemimpin utuh yang matang secara politik, kuat secara intelektual, dan peka secara sosial.
Karakteristik ini mencerminkan model Transformational Leadership (Kepemimpinan Transformasional) yang digagas oleh James MacGregor Burns, di mana seorang pemimpin mampu menaikkan standar moral, motivasi, dan kesadaran pengikutnya melampaui kepentingan pribadi demi kemaslahatan bersama.
Momentum 19 Mei ini menjadi penanda penting dari rekam jejak panjang beliau—mulai dari panggung parlemen, menteri di tingkat nasional, hingga memimpin Provinsi Jawa Timur—sebuah perjalanan karier yang tidak instan, melainkan proses pembentukan kepemimpinan yang reflektif, di mana setiap langkahnya berbasis pada data, gagasan, dan pengalaman sosial yang mendalam.
Tepat pada hari ini, 19 Mei, Khofifah memperingati hari kelahirannya, dan menjadi momentum perayaan atas matangnya sebuah manifesto kepemimpinan.
- Pertamina Goes to Campus 2026 Tampil Lebih Masif, Siap Jelajahi Kampus-Kampus di Indonesia
- Prabowo Terbitkan Perpres Nomor 27 Tahun 2026, Senator Lia Istifhama: Instrumen Menekan Aplikator Nakal
- TASPEN Raih Penghargaan CEO dan COO Terbaik 2026, Bukti Kinerja Kepemimpinan Unggul
- Sambut Kunker & Misi Dagang Gubernur Jatim, Pemprov Kalteng Perkuat Sinergi Ekonomi Antardaerah
- Telkom Mendorong Perempuan Ambil Peran di Garis Depan Kepemimpinan
- Khofifah Pasrah saat Anak Buahnya Disikat Jaksa, Begini Kalimatnya
JPNN.com




