Keterlambatan Pembangunan Tol Menghambat Visi Misi Mencapai Pertumbuhan Ekonomi
jpnn.com, JAKARTA - Pembangunan jalan tol bukan semata-mata pembangunan infrastruktur fisik, tetapi merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan memperkuat konektivitas nasional.
Jalan tol yang baik, aman, dan andal memberikan manfaat langsung kepada publik melalui perjalanan yang lebih efisien, peningkatan mobilitas dan logistik, serta kemudahan dalam menjalankan aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari.
Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio menyebut pembangunan jalan tol memiliki peran strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.
Infrastruktur jalan yang memadai akan memperlancar distribusi barang dan jasa, menurunkan biaya logistik, membuka akses ke pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, serta mendorong tumbuhnya investasi dan lapangan kerja.
“Karena itu, keterlambatan pembangunan jalan tol tidak dapat dilihat hanya sebagai keterlambatan pembangunan fisik, tetapi juga berpotensi menunda manfaat ekonomi yang seharusnya dapat dirasakan masyarakat dan dunia usaha,” kata dia.
Dalam konteks target pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen, keberlanjutan pembangunan infrastruktur menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian.
Jalan tol memang bukan satu-satunya faktor penentu pertumbuhan ekonomi, tetapi konektivitas yang makin baik dapat menjadi salah satu enabler penting bagi efisiensi ekonomi, peningkatan investasi, dan pemerataan pusat-pusat pertumbuhan.
Keberhasilan pembangunan jalan tol harus menjadi perhatian dan tanggung jawab bersama. Pemerintah, badan usaha, investor, lembaga pembiayaan, dan seluruh pemangku kepentingan perlu memiliki kesamaan pandangan bahwa pembangunan infrastruktur tidak berhenti pada pembangunan fisiknya, tetapi harus dipastikan dapat beroperasi, dipelihara, dan memberikan manfaat secara berkelanjutan.
Pengamat menilai keterlambatan pembangunan tol bisa menghambat visi misi pertumbuhan ekonomi.
- Butuh Dana Segar Rp13 Triliun Agar Ekonomi Indonesia Ajeg
- Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen, Indonesia Butuh Investasi Rp13.000 Triliun
- World Bank Revisi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026 Jadi 5,2%
- Hilirisasi Mineral Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
- Alasan Bank Indonesia Menahan BI-Rate di Level 5,75%
- BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi RI 2026 Berkisar di Level 4,9 hingga 5,7 Persen
JPNN.com




