Ketidakpastian Geopolitik Timteng Bikin Rupiah Sulit Bangkit
jpnn.com, JAKARTA - Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menyatakan rupiah masih menghadapi tekanan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah (Timteng).
“Terutama perkembangan terkait Iran dan Selat Hormuz yang berpotensi mempengaruhi pasokan serta harga energi,” ucap Amru di Jakarta, Kamis.
Seperti diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis, bergerak melemah 2 poin atau 0,01 persen.
Mata uang garuda berada di level Rp 17.879 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.877 per USD.
Mengutip Anadolu, Iran memberikan enam syarat yang harus dipenuhi AS agar Selat Hormuz dapat dibuka kembali.
Mulai dari mengakhiri ancaman terhadap pemimpin tertinggi Iran, menghentikan secara permanen aksi militer terhadap Iran dan sekutu-sekutunya di kawasan, menarik seluruh kekuatan laut dan udara AS yang terlibat dalam blokade terhadap Iran.
Selain itu, memberikan kompensasi atas kerugian yang dialami Teheran selama konflik baru-baru ini, mencabut sanksi AS, serta membebaskan aset-aset Iran yang dibekukan.
Iran tengah menyiapkan rancangan undang-undang yang melarang kapal militer dan komersial dari negara yang dianggap "musuh" memasuki Selat Hormuz tanpa persetujuan Teheran.
Research and Development ICDX Muhammad Amru Syifa menyatakan rupiah masih menghadapi tekanan ketidakpastian geopolitik Timteng
- Trump Pastikan Peran Selat Hormuz akan Berkurang
- Setelah Dikritik Trump, Korsel Bersiap Kirim Armada Angkatan Laut ke Selat Hormuz
- Kabar Baik dari Rupiah, Alhamdulillah Moncer
- BPS Ungkap Perbedaan Garis Kemiskinan Indonesia & World Bank
- Sentimen dari The Fed Menguat, Bagaimana Kondisi Rupiah Hari Ini
- AS Ancam Serang Iran Lagi, Trump: Lihat Saja Apa yang Terjadi
JPNN.com




