Ketum KSPSI: Perkembangan di Timur Tengah Ngeri-Ngeri Sedap, Buruh Harus Tahu

Ketum KSPSI: Perkembangan di Timur Tengah Ngeri-Ngeri Sedap, Buruh Harus Tahu
Ketum KSPSI Jumhur Hidayat cemas dengan perkembangan di Timur Tengah, sehingga buruh harus tanu dampaknya. Foto dokumentasi KSPSI

Menurut Fadhil, hubungannya yang luas dengan pemimpin negara-negara sahabat membuat Presiden Prabowo memiliki kelenturan dalam menggalang diplomasi dengan negara-negara lain untuk meminimalisir dampak perang di Timur Tengah itu.

"Kita harus dorong Presiden Prabowo untuk lebih proaktif melakukan diplomasi mencegah meluasnya dampak perang di Timur Tengah," cetus Fadhil.

Soal stok minyak di tanah air yang tinggal 23 hari, Fadhil Hasan meminta masyarakat tidak merisaukannya, karena sebelum 23 hari stok BBM akan terus diisi sebagaimana yang terjadi selama ini.

Fadhil mengemukakan impor minyak kita dari Timur Tengah hanya 5% karena sebagian besar dari Nigeria dan Angola. Selain itu, Indonesia punya perjanjian dagang dengan AS yang memungkinkan impor minyak dari negara tersebut meskipun biayanya lebih mahal karena jaraknya yang lebih jauh.

Fadhil mengaku tidak bisa memprediksi kapan perang di Timur Tengah antara AS - Israel dengan Iran akan berakhir. Karena itu, ia meminta para pimpinan organisasi buruh nasional untuk memonitor perkembangan, dan senantiasa memberikan masukan kepada pemerintah.

"Kita minta harus dimonitor, observasi, kalau perlu memberikan masukan-masukan kepada pemerintah supaya dampaknya tidak negatif. Mudah-mudahan saja perang ini berhenti dalam waktu yang sangat cepat," kata Fadhil. (esy/jpnn)

Simak! Video Pilihan Redaksi:

Ketum KSPSI Jumhur Hidayat cemas dengan perkembangan situasi di Timur Tengah, sehingga buruh harus tanu dampaknya terhadap Indonesia.


Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Mesyia Muhammad

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News