Kinerja Moncer, Bea Cukai Kantongi Rp1,44 Triliun dalam 4 Bulan

Kinerja Moncer, Bea Cukai Kantongi Rp1,44 Triliun dalam 4 Bulan
Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) TMP C Sumbawa mencatatkan performa fiskal luar biasa pada awal 2026. Foto: dok Bea Cukai

Aktivitas logistik di pelabuhan meningkat, perputaran usaha jasa penunjang tumbuh, dan sektor perdagangan regional ikut terdorong.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bahkan mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 13,64% pada triwulan I 2026—tertinggi di kawasan Bali–Nusa Tenggara—yang didorong lonjakan ekspor luar negeri hingga 827%.

Namun, di balik tingginya penerimaan negara, terdapat dinamika besar yang sedang berlangsung.

Pemerintah saat ini terus mendorong hilirisasi industri pertambangan melalui pembangunan dan optimalisasi fasilitas smelter.

Ketika smelter beroperasi penuh, ekspor konsentrat secara bertahap akan berkurang dan pola penerimaan negara diproyeksikan ikut berubah.

Hal tersebut juga sejalan dengan dikeluarkan kebijakan bea keluar untuk komoditas emas yang resmi diberlakukan pada akhir 2025, dengan tujuan untuk memastikan bahwa emas nasional tidak berhenti sebagai komoditas ekspor produk antara dengan nilai tambah terbatas.

Namun, mendorong agar sumber daya emas nasional bergerak lebih jauh ke rantai hilir dan memberi manfaat ekonomi yang lebih besar di dalam negeri, menjadi basis penguatan industri nasional.

Artinya, capaian ini merupakan 'windfall' atau keuntungan tak terduga yang menjadi modal penting bagi negara di masa transisi menuju hilirisasi penuh. Di sisi lain, Bea Cukai Sumbawa juga menghadapi tantangan pengawasan yang tidak ringan.

Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) TMP C Sumbawa mencatatkan performa fiskal luar biasa pada awal 2026.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News