JPNN.com

Klaster Keluarga Merajalela, Tolong Kesadarannya Protokol Kesehatan di Rumah!

Kamis, 21 Januari 2021 – 12:05 WIB
Klaster Keluarga Merajalela, Tolong Kesadarannya Protokol Kesehatan di Rumah! - JPNN.com
Ilustrasi COVID-19. Foto: diambil dari covid19goid

jpnn.com, SURABAYA - Pemerintah Kota Surabaya terus melakukan evaluasi penyebaran covid-19. Hasilnya, dari tracing dan laporan tiap kecamatan, penularan yang terjadi karena kontak erat dengan keluarga tertinggi di Surabaya.

Wakil Sekretaris Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya, Irvan Widyanto menyampaikan, dilakukan analisis terhadap 150 sampel kasus Covid-19 di Surabaya terhitung mulai 10-17 Januari 2021.

"Hasilnya terdapat beberapa faktor yang mengakibatkan seseorang tersebut tertular ataupun dinyatakan terkonfirmasi Covid-19, antara lain kontak erat keluarga yang dinyatakan terkonfirmasi Covid-19 dengan persentase 28 persen," ujar Irvan.

Berdasar hasil analisa, pria yang juga Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPB) dan Linmas Kota Surabaya itu memaparkan, angka komorbid mencapai 24,7 persen, kemudian memiliki riwayat bepergian dari luar kota 14,7 persen, dan penularan di tempat kerja 12,7 persen. Kemudian kerumunan 10 persen, lalu pekerja di rumah sakit dan tenaga medis 7,3 persen, dan perjalanan 2,6 persen.

Irvan mengakui, memang klaster keluarga ini paling banyak karena sulitnya orang dalam satu rumah menerapkan protokol kesehatan mulai memakai masker dan menjaga jarak.

Padahal, sangat mungkin mereka sudah tertular tetapi tidak bergejala ketika kerja atau usai aktivitas dari luar.

"Dari 150 sample kasus terdapat 68 persen orang terkonfirmasi Covid-19 melaksanakan isolasi di rumah/apartemen, dan 25 persen melaksanakan isolasi di Rumah Sakit/Tempat yang disediakan oleh Pemerintah/Swasta, dan tujuh persen di tempat lainnya," katanya.

Karena itu, kata dia, Pemkot Surabaya telah menggelontorkan dana kampung tangguh yang diaktifkan kembali mengantisipasi terjadinya penularan yang lebih masif. Mengingat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mengeluarkan peringatan prediksi puncak penularan kasus di akhir bulan Januari hingga awal Februari 2021 ini.

“Dari hasil evaluasi memang perlu adanya evaluasi terkait dengan pelaksanaan isolasi mandiri di rumah, dikarenakan terdapat banyak kasus yang terjadi akibat kontak erat dari keluarga yang terkonfirmasi Covid-19,” kata Irvan.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...