Konsisten Rawat Karya KH. Hasyim Asy'ari, PKB Kaji Kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim
Alasan kedua, sebagai bentuk pengabdian dalam menjaga dan membesarkan karya terbesar Mbah Hasyim, yakni Nahdlatul Ulama. Bagi PKB, merawat NU bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan tanggung jawab ideologis.
“Sepelik apapun dunia politik Indonesia, kita masih punya kendali. Kendali itu adalah kitab kuning karya para ulama. Dan NU itu adalah kitab kuning terbesar Mbah Hasyim. Itulah pemandu kita. Tidak banyak partai politik yang menjadikan kitab kuning sebagai arah perjuangan,” ujarnya.
Kajian ini dibuka dan dipandu langsung oleh KH. Fahmi Amrullah Hadziq, cucu langsung Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari, memperkuat sanad keilmuan sekaligus ikatan historis PKB dengan pesantren.
Digelar secara hybrid, kegiatan ini diwajibkan bagi seluruh anggota DPRD, kepala daerah dari PKB, serta kader di berbagai tingkatan.
"Tujuannya jelas, memastikan bahwa setiap kader yang berada di ruang kekuasaan tetap memiliki pemandu moral," kata Cak Udin.
Di tengah bisingnya politik nasional dan derasnya arus teknologi, PKB menegaskan satu sikap yakni ilmu penting, tetapi adab lebih utama.
"Bagi PKB, kitab kuning adalah kompas yang menjaga arah perjuangan tetap berada di rel keumatan dan kebangsaan," tutur Cak Udin.(mcr8/jpnn)
DPP PKB kembali menegaskan jati dirinya sebagai partai berbasis pesantren dengan melanjutkan Kajian Rutin Ramadan Seri ke-4.
Redaktur : Elvi Robiatul
Reporter : Kenny Kurnia Putra
- Refleksi Waisak PKB, Gus Halim: Indonesia Butuh Lebih Banyak Cinta dan Persaudaraan
- Kemenag: Spirit Kiai Wahab Hasbullah Relevan Perkuat Pesantren dan NKRI
- Pengasuh Tersangka Pencabulan, Ponpes Al Anwar Mantingan Direkomendasikan Tak Terima Santri Baru
- Kasus Pelecehan Seksual terhadap Santri, Ustaz SAM Diburu Polri
- PKB Perketat Rekrutmen Pemimpin, 800 Calon Ketua DPC Jalani UKK Tahap Dua
- 11 Pesantren di Jatim Terima Bantuan Sarana Pendidikan dan Pemberdayaan Ekonomi
JPNN.com




