Krisis Energi Global Meningkat, Pengamat: Jangan Bebankan Pertamina
jpnn.com, JAKARTA - Krisis energi global akibat lonjakan harga minyak dunia berpotensi menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta stabilitas ekonomi nasional.
Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro, mengingatkan agar pemerintah tidak sepenuhnya membebankan penanganan krisis kepada BUMN energi seperti Pertamina.
Menurut Komaidi, tantangan energi saat ini bersifat sistemik sehingga membutuhkan pendekatan kolektif lintas pemangku kepentingan.
Dia menyebut, harga minyak global yang berada di kisaran US$100–115 per barel jauh melampaui asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel, sehingga memicu tekanan fiskal yang signifikan.
“Jika seluruh beban ditumpukan pada Pertamina, maka risiko terhadap kesehatan keuangan BUMN ini juga akan meningkat,” kata Komaidi dalam forum diskusi yang digelar Energy & Mining Editor Society di Jakarta, Kamis (16/4).
Berdasarkan simulasi Reforminer Institute, lonjakan harga minyak mentah Indonesia (ICP) tidak hanya mendorong inflasi, tetapi juga menggerus ruang fiskal secara signifikan.
Tanpa penyesuaian kebijakan, defisit APBN berpotensi menembus batas 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada pertengahan 2026.
Komaidi yang juga pengajar di Universitas Trisakti menjelaskan, sekitar 70 persen perubahan harga BBM dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak mentah dan nilai tukar.
Lonjakan harga minyak global berpotensi menekan APBN, pengamat minta beban tidak hanya ke Pertamina.
- Rupiah Kembali Ambles ke Level Rp 17.500 per Dolar AS, Pengamat Ungkap Biang Kerok
- Dukung Ketahanan Energi, Blok Cepu Pasok 620 Ribu Barel ke Pertamina
- Startup Binaan Pertamina Tembus Top 6 Global Social Innovation Challenge 2026 di AS
- PTC Gelar RUPS 2025, Pertegas Komitmen Transformasi & Ketahanan Korporasi
- Inabuyer 2026 jadi Ajang UMKM Binaan Pertamina Tembus Potensi Bisnis Miliaran Rupiah
- Mejeng di Inabuyer 2026, UMKM Binaan Pertamina Catat Potensi Bisnis Rp10,6 Miliar
JPNN.com




