Esai Sejarah

Lebih dari Sekadar Hari Valentine

Lebih dari Sekadar Hari Valentine
Seorang bocah membawa Bendera Merah Putih di Sungai Kalianyar, Solo, Kamis, 17 Agustus 2017. Ilustrasi Foto: Arief Budiman/Radar Solo/JPNN.com

jpnn.com - Alangkah hebatnya bangsa Latin. Kalender mereka mendunia, kita memakainya. Aksaranya pun mendunia. Kita juga memakainya. Sejarah dan legendanya mendunia. Kita ikut pula merayakannya. Valentine's Day misalnya, yang dirayakan hari ini 14 Februari. Siapa sebenarnya bangsa Latin?
 
WENRI WANHAR – SIAK INDRAPURA
 
Kuda Troya! Negeri Troy hancur. Luluh lantak. Lumat dilalap si jago merah. Raja Priam, pimpinan Troy yang terkenal dibunuh Pyrrhus putra Achilles.
 
Epiknya pertempuran pasukan Troy dan Yunani dituturkan Homerus, seniman Yunani Kuno dalam sajak Iliad, karya sastra dunia seluas Mahabrata dan I La Galigo.
 
Perjalanan pulang bangsa Yunani yang dilanda serangkaian petaka juga dituturkan Homerus dalam The Oddyssey, sekuel lanjutan Iliad.
 
Sekian abad kemudian, Publius Vergilius Maro, penyair Roma yang dalam khazanah sastra dikenal dengan nama Virgil menulis The Aenid, untuk mengingatkan bangsa Latin-- Romawi bahwa asal-usul mereka bertalian dengan bangsa Troy.
 
The Aenid karya Virgil mengisahkan banyak hal. Alur utamanya pengembaraan Aenas, prajurit Troy terhebat setelah Hector memimpin rombongan orang-orang Troy yang selamat.
 
Alfred J. Church menerjemahkan naskah itu ke bahasa Inggris di bawah judul The Aenid of Virgil. Diterbitkan pada 1936 di New York.
 
Dikisahkan, sesampai di Itali, rombongan Aeneas  membangun negeri baru yang kelak—sebagaimana tertulis di naskah itu--ditakdirkan Dewa-Dewa akan menguasai dunia.
 
Mereka dikenal sebagai bangsa Latin, karena Hera adik sekaligus istri Dewa Zeus tidak suka Troy.
 
Latin sendiri berasal dari kata Latinus, nama raja yang menguasai Latium—nama negeri Roma ketika orang-orang Troy baru datang.
 
Keturunan Aeneas-lah yang melahirkan Romus-Romulus pendiri Imperium Romawi.
 
Kemudian hari negeri itu dipimpin Julius Caesar. Pada masa inilah Romawi mendapatkan tuahnya.

Caesar memanggil Sosigenes, seorang ahli astronomi dan M. Flavius, ahli Taurat dari Alexandria, Mesir. Mereka berunding. Menghitung ulang penanggalan kalender. 

Berdasarkan pemikiran terkait musim, mitologi dan sejarah, Caesar memutuskan merobah kalender—hitungan Mesir--yang sebelumnya hanya 10 bulan, dengan urutan; Mart, Aprilis, Meius, Junius, Quintilis, Sestilis, Septembre, Oktobre, Novembre dan Decembre menjadi 12 bulan.  

Penguasa Romawi itu menambahkan Januarius dan Februarius jadi bulan pertama dan kedua. Secara siklus alam, pada bulan itu adalah awal datangnya musim salju.    

Untuk meninggalkan jejak, Julius Caesar memasukkan namanya pada bulan ke tujuh. Ia mengganti Quintilis dengan Julius. Caesar tentu tak serampangan. Quintilis berarti ratu atau penguasa. 

Sejak itu, urutan kalender pun berubah menjadi Januarius, Februarius, Mart, Aprilis, Meius, Junius, Julius, Sestilis, Septembre, Oktobre, Novembre, Decembre.

Baca: Sejarah Kalender Masehi 

Sejak itulah tahun baru 1 Januari mulai dirayakan. Sejak itu pula, Romawi mulai menguasai dunia.

Alangkah hebatnya bangsa Latin. Kalender mereka mendunia, kita memakainya. Aksaranya pun mendunia. Kita juga memakainya. Sejarah dan legendanya mendunia. Kita ikut pula merayakannya. Valentine's Day misalnya, yang dirayakan hari ini 14 Februari. Siapa seb

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News