Lewat Pasrah

Oleh Dahlan Iskan

Lewat Pasrah
Dahlan Iskan. Foto: dok JPNN.com

Sebagian lagi tidak bisa menerima sama sekali karena berharap pemerintah suatu saat akan berganti. Mereka tunggu sampai pemilu akan datang. Kalau perlu pergantian itu dipercepat.

Masih ada faktor teknis. Dengan harga batu bara selama ini yang tinggi, biaya operasional sudah telanjur ikut naik. Biaya ini ditanggung oleh pengusaha. Tidak mudah menurunkan biaya operasional: gaji yang sudah keburu tinggi mana bisa diturunkan.

Sawit sebenarnya agak berbeda. Sawit tidak sepenuhnya pemberian alam. Pengusahanya masih harus kerja keras: melakukan pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan. Sedangkan batu bara sepenuhnya sudah ada di bumi pertiwi.

Sawit juga berbeda karena banyaknya petani sawit. Jutaan orang.

Harga sawit yang turun akibat ketidakpastian selama ini juga mengganggu petani sawit. Ini yang meresahkan. Turun dari Rp3.400 ke sekitar Rp2.800. Sangat besar. Alasannya: pedagang tidak mau ambil sawit menunggu kepastian kebijakan pemerintah. Imbauan dan pidato tidak akan bisa memperbaiki harga jual petani sawit.

Kini presiden sudah memastikan: program besarnya tetap dijalankan. Yang ditunggu ialah berubahnya kejiwaan para pengusaha dari ''menolak'' ke ''menerima'' lewat jalan ''pasrah''.

Sebaliknya pemerintah harus menjamin tidak akan terjadi proses yang panjang yang hanya menambah ketidakefisienan saja. Pengusaha itu berbeda dengan pemerintah. Rukun iman pengusaha hanya satu: efisien atau mati. Pemerintah, seboros apa pun tidak bisa mati –maksimal hanya setengah mati.

Pengusaha juga perlu kecepatan. Rukun iman pengusaha lainnya: cepat atau lewat. Sedangkan pemerintah, selambat apa pun tidak akan kalah karena tidak punya pesaing.

Saya salah hitung. Saya pikir guncangnya rupiah dan bursa saham hanya karena tidak adanya kepastian ekonomi akan ke mana.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News