Lingga Yoni Sriwijaya, Sisi Lain Keagungan Sejarah

Lingga Yoni Sriwijaya, Sisi Lain Keagungan Sejarah
Lingga Yoni Sriwijaya, buah pikir Wenri Wanhar. Foto: source for JPNN

‎Perlambang yang di dalam rahim bakal menjadi anak bentuknya serupa Yoni. Dinamai Prasasti Karang Brahi karena ditemukan di daerah Karang Brahi. Ia masih berada di kampung tempatnya ditemukan lagi, tempo hari.

‎Perlu diketahui, Prasasti Karang Brahi dulu ditemukan lagi di Bangko tak jauh dari tempatnya semula tegak. Begitu pula dengan Prasasti Kota Kapur di Bangka. Sedangkan Prasasti Kedukan Bukit sebelum ditemukan lagi oleh orangnya Westenenk di Palembang telah berpindah-pindah, bergerak kian kemari karena ia digunakan untuk jimat lomba balap perahu.

‎Uniknya, batu bertulis yang di Bangka dengan yang di Bangko isinya seroman. Sama-sama mengingatkan bahwa setinggi-tingginya ilmu bukan untuk diadu-adu. Bukan untuk mengalahkan, apalagi mencelakai yang lain.

‎Keduanya dibuka dengan kisah pertarungan dua orang sakti. Dan mati keduanya.

‎"Ini sesuai dengan sloka ilmu para datu; memintas sebelum hanyut, melantai sebelum lapuk, ingat-ingat sebelum kena. Sloka ini tercermin di isi batu Sriwijaya yang di Bangka dan yang di Bangko. Keduanya ialah tapal batas, pemintas. Sebab, kalau tak dipintas, orang berilmu mudah sekali menjadi sombong," tulis Wenri dalam buku Lingga Yoni Sriwijaya.

‎Dan hebatnya, baik Bangko dan juga Bangko, secara bahasa, artinya pun serupa; ujung pangkal.

‎Batu bertulis yang di Bangka bentuknya serupa Lingga. Dan yang di Bangko serupa Yoni.

‎Dua batu bersurat yang isinya seroman ini sejatinya ialah titik koordinat Kedatuan Sriwijaya.

Buku Lingga Yoni Sriwijaya ibarat perahu yang mengajak para pembacanya mengarungi lapis demi lapis sejarah dunia.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News