Lokot Desak Evaluasi Sistem Keselamatan Kereta Api Pascainsiden Bekasi Timur
jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi V DPR RI Muhammad Lokot Nasution, meminta dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan dan pola operasi perjalanan kereta api pascakecelakaan di Stasiun Bekasi Timur.
Pernyataan tersebut disampaikan Lokot menanggapi insiden tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026.
Kecelakaan itu dilaporkan menyebabkan 14 orang meninggal dunia dan 84 orang lainnya mengalami luka-luka.
Lokot menegaskan evaluasi diperlukan untuk memastikan sistem keselamatan perkeretaapian nasional berjalan optimal dan mampu mencegah terulangnya kecelakaan serupa di masa mendatang.
“Evaluasi penting, terutama terkait pola operasi dan upaya peningkatan keselamatan perjalanan kereta api,” kata Lokot kepada awak media.
Menurut dia, peningkatan standar keselamatan harus menjadi prioritas utama agar operasional kereta api semakin aman dan risiko kecelakaan dapat ditekan semaksimal mungkin.
Lokot juga menyoroti kemungkinan adanya gangguan pada sistem persinyalan yang digunakan di jalur kereta api di Pulau Jawa.
Dia menjelaskan, sebagian besar lintasan telah menggunakan sinyal elektrik yang seharusnya otomatis menunjukkan lampu merah apabila terdapat kereta yang berhenti di satu petak jalur.
Lokot mendesak evaluasi sistem keselamatan kereta api usai kecelakaan maut di Bekasi Timur.
- Tingkatkan Pelayanan, Rudi Hartono Bangun Dukung Peremajaan Gerbong Kereta Api
- MTI Soroti Potret RI: Negara Baru Sibuk Benahi Keselamatan Setelah Tragedi Besar Terjadi
- Dukung Optimalisasi Operasional KA, KAI Logistik Kirim 25 Kereta ke Sumatera
- Ternyata Begini Kronologi Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur
- Libur Panjang, Sudah 142.147 Tiket Kereta Api Terjual
- KAI Jakarta Bakal Tutup 40 Pelintasan Sebidang Liar Sepanjang 2026
JPNN.com




