Malaysia Perketat Aturan Impor EV, Pabrikan Mobil China Terancam Kehilangan Pasar
Sebagai contoh, produk BYD di Malaysia saat ini terdiri atas tujuh model mobil yang semuanya memiliki harga awal di bawah 200.000 ringgit.
Sementara modelseperti Dolphin dan Atto 3 varian dasar memiliki daya motor di bawah ketentuan 180 kW (sekitar 241 hp).
Model mobil listrik populer lainnya, termasuk Zeekr 7X dan Chery Omoda E5, saat ini juga tidak dapat diimpor berdasarkan aturan baru yang diterapkan oleh pemerintah Malaysia.
Beberapa produsen mobil China diwartakan mempertimbangkan untuk memproduksi kendaraan secara lokal guna menghindari pembatasan impor.
Namun, pemerintah Malaysia menetapkan persyaratan yang ketat bagi proyek manufaktur baru yang disetujui setelah 1 September 2025, antara lain harga kendaraan yang diproduksi minimum harus 100.000 ringgit (sekitar Rp441,3 juta), sedikitnya 80 persen dari total produksi harus diekspor, dan penjualan di dalam negeri dibatasi maksimal 20 persen.
Selain itu, proses pengelasan, pengecatan, dan perakitan akhir wajib dilakukan di Malaysia sebagai bagian dari persyaratan lokalisasi bernilai tinggi.
Beberapa perusahaan otomotif China memanfaatkan kemitraan lokal yang sudah ada untukmempertahankan kehadirannya di Malaysia.
Leapmotor pada Juni 2026 mulai merakit model C10 secara lokal di pabrik yang berlokasi di Kedah menggunakan fasilitas manufaktur milik Stellantis
Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industrik Malaysia mulai meneraptkan peraturan baru terkait impor mobil EV secara CBU.
- Penjualan Anjlok, Volvo Setop Produksi SUV Listrik Ini
- APJATI Perkuat Kemitraan Ketenagakerjaan Indonesia–Malaysia Lewat EBM 2026
- Nissan Hidupkan Kembali Model Ini, Tetapi Jadi Mobil Listrik
- Mobil Listrik Ioniq 6 Terbakar di Jakarta, Hyundai Buka Suara, Simak
- Janji Menteri Imipas Terpenuhi, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia
- Sahroni: Tutup Peredaran Narkoba Lewat Laut, Darat, dan Udara
JPNN.com




