Masa Depan Transaksi Non-Tunai Saat Pembayaran Digital Belum Menjangkau Semua Orang di Indonesia
Sabtu, 17 Januari 2026 – 01:21 WIB
Peralihan ke pembayaran digital menciptakan tekanan baru bagi sejumlah profesi di Indonesia. (ABC News: Raffa Athallah)
Rizki dan Oki sehari-hari mengamen demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Hari itu, mereka mengamen di salah satu sudut kantin kota saat jam makan siang, ketika ramai diserbu pekerja kantor dan mahasiswa.
Beberapa memberi uang tunai, namun lebih banyak yang menolak dan melanjutkan makan.
Baca Juga:
Di hari biasa, mereka masing-masing bisa memperoleh sekitar 50.000 rupiah.
"Yang penting halal dan berkah," kata Rizki.
"Kalau misalnya enggak ada, ya enggak apa-apa. Intinya kami meminta, enggak maksa."
Namun, dengan semakin banyaknya orang beralih ke pembayaran digital, penghasilan Rizki dan Oki terancam.
Ini karena mereka tidak menerima pembayaran non-tunai, metode yang kini semakin umum di kota-kota besar seperti Jakarta.
Di kota-kota besar Indonesia, pembayaran digital dengan QR atau e-wallet sudah jadi hal biasa
BERITA TERKAIT
- Dunia Hari Ini: Ilmuwan Warga dari Berbagai Negara Mengerjakan Fosil Berusia 100 Juta Tahun di Australia
- Jualan Makin Gampang Dengan QRIS di Aplikasi GoPay
- Komunitas Muslim Australia Marah Atas Tindakan Polisi dalam Insiden Salat Berjemaah di Sydney
- Dunia Hari Ini: Penembak Masjid di Christchurch Minta Pengakuan Bersalahnya Dibatalkan
- Dunia Hari Ini: Presiden Israel ke Australia, Unjuk Rasa Besar Bakal Pecah di Mana-Mana
- Dunia Hari Ini: Indonesia - Australia Tandatangani Perjanjian Keamanan
JPNN.com




