Medan Magnet Rel Kereta Disebut Tak Ganggu Sistem Listrik Mobil
"Faktor penyerta yang memperparah kedua skenario adalah infrastruktur perlintasan yang tidak memadai, perlintasan tanpa palang pintu resmi, tanpa sistem deteksi kendaraan, dan keberadaan perlintasan sebidang di jalur padat yang seharusnya sudah diganti dengan underpass," ia menjelaskan.
Yannes mengemukakan bahwa mobil listrik (Electronic Vehicle/EV) secara teknis memiliki ketahanan tinggi terhadap gangguan elektromagnetik, sehingga kecil kemungkinan mobil listrik akan mati mendadak ketika melintasi jalur kereta api.
"Secara teknis, EV memiliki potensi yang sangat rendah untuk mati mesin secara mendadak saat melintasi rel kereta api, karena medan elektromagnetik yang dihasilkan rel terlalu lemah untuk memengaruhi sistem kelistrikan kendaraan, baik EV maupun mobil berbahan bakar konvensional," tuturnya.
Menurut dia, mobil listrik modern telah dirancang dengan pelindung interferensi elektromagnetik dan wajib lolos serangkaian uji kompatibilitas sebelum dipasarkan.
Kendaraan elektrik antara lain harus memenuhi standar ISO 11451 dan ISO 11452 untuk memastikan ketahanan kendaraan dan komponennya terhadap paparan medan elektromagnetik serta ISO 7637 untuk menguji gangguan listrik pada sistem tegangan tinggi.
Selain itu, Yannes mengatakan, mobil listrik harus memenuhi ketentuan tentang emisi radiasi serta kompatibilitas elektromagnetik kendaraan. (Antara/jpnn)
Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu menanggapi mengenai isu yang berkembang mengenai mobil listrik.
Redaktur & Reporter : Dedi Sofian
- Rahasia Teknologi BYD Dibuka ke Publik, Pengunjung Bisa Mengintip dari Dekat
- MDLA Hadirkan Armada Mobil Listrik Pertamanya
- Tren Berubah, Masyarakat Semakin Banyak Beralih ke Mobil Listrik
- Alasan Purbaya Menunda Insentif Bagi Kendaraan Listrik
- Subsidi EV Dinilai Jadi Titik Kebangkitan Industri Baterai NMC Indonesia
- Mengenal Teknologi Mobil Listrik REEV: Ini Bedanya dari HEV, PHEV, dan BEV
JPNN.com




