Senin, 19 November 2018 – 02:22 WIB

Menelusuri Puluhan Desa yang Hilang di Australia

Jumat, 13 Juli 2018 – 12:00 WIB
Menelusuri Puluhan Desa yang Hilang di Australia - JPNN.COM

Daerah Central West di negara bagian New South Wales Australia dipenuhi dengan sisa reruntuhan permukiman yang dahulu pernah berjaya.

Jika ke sana, Anda masih bisa mendapati bangunan bekas kantor pos dengan atapnya jatuh di sana-sini. Atau jejeran batu nisan yang lebih seabad diterpa angin dan hujan.

Tapi di bagian lain wilayah ini, ada juga bekas kota kecil dan desa-desa yang tak lagi terlihat. Semuanya hilang ditelan waktu.

Seorang warga bernama Sam Guthrie, lahir di dekat Galleymont, sebuah desa yang kini telah hilang.

"Saya tahu pernah ada kota di sana, tapi sekarang sudah hilang," kata mahasiswa jurusan sejarah Australian National University ini.

Dia selalu penasaran bagaimana sebuah tempat yang pernah dihuni ratusan penduduk sekarang tidak ada lagi bekasnya.

Bagaimana mendefinisikan desa

Di Central West tercatat setidaknya 39 kota atau desa yang diketahui telah hilang. Tapi jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi.

Lembaga Geographical Names Board tidak dapat menjelaskan jumlah tepatnya.

Meskipun nama tempat menyediakan jalan ke masa lalu, Geographical Names Board baru menetapkan nama-nama mulai akhir 1960-an.

Karena itu, menurut mereka, menentukan kota atau desa apa saja yang telah hilang memerlukan perbandingan Geographical Names Register dengan nama-nama bersejarah.

Peneliti sejarah Gay Hendrikson menyebutkan ada 25 kota kecil dan desa yang hilang di daerah Central West.

Dia meneliti persebaran paroki, mengecek catatan pemkot dan museum setempat, serta membandingkan sejarah lisan wilayah itu.

Laporannya menyebutkan desa-desa yang diketahui dan yang telah hilang.

"Tergantung apakah perkampungan pemukim itu desa atau bukan. Tergantung bagaimana mendefinsikan sebuah desa," ujarnya.

Berjarak dekat

Daerah Central West pernah dianggap sebagai wilayah buas koloni Australia.

Saat itu pegunungan Blue Mountains baru saja bisa dilalui, para pendatang yang putus asa bersebaran di Great Dividing Range, terpikat lahan dan emas.

Surveyor dari London yang menentukan batas-batas permukiman sering kali tiba di lokasi yang baru ditemukan dan mendapati sudah dihuni.

Dengan pola demikian, menurut Hendrikson, seringkali ada alasan praktis untuk menentukan lokasi suatu desa atau kota kecil.

"Rata-rata orang bisa berjalan sekitar 25 kilometer per hari. Lihat saja jarak antara kota-kota itu," katanya.

Terkait pertambangan

Kota-kota yang hilang ini umumnya terkait dengan rute atau akses ke pertambangan.

Kantor polisi, gedung pengadilan, kantor pos, sekolah, dan bank akan mengubah suatu wilayah menjadi kota atau desa.

Namun menipisnya cadangan mineral atau perubahan jalur transportasi dapat mengubah nasib sebuah kota seketika.

"Ada tidaknya jalur kereta api sangat menentukan apakah sebuah desa berubah menjadi kota," kata Hendrickson.

Peter Douglas dari perpustakaan Kota Orange mengatakan evolusi transportasi berkontribusi terbesar bagi bertahan atau hilangnya sebuah desa.

"Faktor yang membunuh sebagian besar kota kecil ini adalah bahwa membaiknya semua sistem jalan dan transportasi," katanya.

"Orang-orang yang tadinya singgah belanja di desa mereka, tidak lagi membutuhkan kantor pos, tidak lagi membutuhkan sekolah dan berangsur lenyap," tambahnya.

"Ketika belum ada kendaraan untuk ke sekolah, jarak 10 kilometer itu sangat jauh. Namun begitu ada mobil, 10 atau 20 kilometer bukan lagi masalah," jelas Douglas.

Yang bertahan

Sisa-sisa dari beberapa desa dan kota kecil yang hilang masih terlihat hari ini.

Bekas kantor pos dan kandang kuda di Cheeseman's Creek misalnya masih terlihat di antara Kota Orange dan Cudal. Begitu pula pekuburan di Toogong.

Di Desa Ophir, yang sepenuhnya musnah ditelan waktu, hanya tersisa bekas tambang. Sejumlah tempat mempertahankan namanya, meskipun desanya sudah lama hilang.

Ini bisa terlihat di Murga, yang papan petunjuk jalannya masih tampak di sisi jalan.

Direktur konservasi di National Trust Graham Quint menjelaskan sisa-sisa tersebut bervariasi, tergantung tujuan awalnya.

"Pada awal masa demam emas, kita dapati tenda-tenda. Setelah mereka pindah, tidak banyak yang tersisa kecuali lubang tambang," kata Quint.

"Mungkin ada bekas toko - bangunan kayu dengan tungku batu - dan yang bertahan adalah tungku tersebut," tambahnya.

Jika daerah itu mengandalkan industri wol, katanya, mungkin masih tersisa banyak gudang.

Sensasi kota hantu

Peran seniman tak dapat diabaikan karena kontribusi mereka dalam cerita rakyat dan narasi romantisme tentang desa yang hilang.

"Ini baru terjadi akhir abad 19 dan awal abad 20," kata Richard White, profesor sejarah di Universitas Sydney.

Daya tarik peninggalan masa lalu, katanya, bersifat universal.

Daerah Central West dan semua desa dan kota yang hilang di Australia memang dalam kejayaan dan kepunahannya yang berjalan damai.

"Mereka cenderung hilang karena faktor ekonomi," kata Dr White.

Desa yang hilang di Central West

Bimbi, Browns Creek, Burdett, Burnt Yards, Byng, Cadia, Caleula, Cheeseman's Creek, Cranbury, Cumble, Dension, Emu Swamp, Fitzgerald Mount, Flyer's Creek, Forest, Forest Reefs, Four Mile Creek, Fredrick's Valley, Glen Davis, Gregam's Town, Guyong, Hill End, Icely, Junction Reefs, Kerrs Creek, Kings Plains, Lewis Ponds, Manduramah, Moonilda, Mount McDonald, Mount Wygaton, Murga, Newes, Ophir, Shadforth, Spring Hill, Summer Hill, The Springs, Toogong, Wattle Flat and Yarrabin.

Diterbitkan oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC Australia.

 
SHARES
Komentar