Mengakhiri Perang Suku di Papua
Oleh: Hironimus Hilapok, M.Si, M.M - Direktur Satu Honai Indonesia Foto: Source for JPNN
jpnn.com - Setiap terjadi konflik antarsuku di Papua menyisakan pertanyaan yang sama: sampai kapan orang Papua kehilangan nyawa di tangan sesamanya sendiri?
Ini bukan semata seruan moral, melainkan soal kebijakan yang mendesak. Di wilayah yang masih bergulat dengan ketertinggalan pembangunan, kekerasan horizontal adalah kemunduran berlapis.
Badan Pusat Statistik mencatat Indeks Pembangunan Manusia Papua Pegunungan pada 2024 baru 54,43, masih dalam kategori rendah.
Pada saat yang sama, penduduk provinsi ini sekitar 1,47 juta jiwa.
Dalam konteks itu, setiap korban jiwa, luka, pengungsian, dan rumah yang terbakar bukan hanya tragedi kemanusiaan, melainkan pengurangan daya hidup sosial Papua.
Intinya sederhana: orang Papua tidak boleh terus berkurang karena konflik antar saudara.
Konflik antarsuku di Papua bukan peristiwa tunggal. Pemantiknya bisa berbeda—sengketa tanah ulayat, kematian anggota komunitas, relasi keluarga yang meluas menjadi pertikaian kolektif, atau ketidakpuasan atas hasil perdamaian—tetapi polanya serupa: penyelesaian yang longgar membuat konflik mudah tersulut lagi.
Kejadian di Timika memberi pelajaran penting. Pada Januari 2025, bentrokan antarkelompok di Mimika melukai sedikitnya 11 orang.
Setiap terjadi konflik antarsuku di Papua menyisakan pertanyaan yang sama: sampai kapan orang Papua kehilangan nyawa di tangan sesamanya sendiri?
- 8 Anggota OPM Kodap XV/Ngalum Kupel Memilih Jalan Damai, Kiwirok Menorehkan Harapan Baru Bagi Papua
- Papua: Perang Narasi Abadi
- Soal Isu TNI Terlibat di Kasus Mama Sinta, Pernyataan Pangdam Mandala Trikora Tegas Sekali
- PSN Wanam Dinilai Jadi Jalan Menuju Kesejahteraan Warga Papua
- Empat BPD Baru Papua Tolak Pembedaan Hak Voters HIPMI
- Yanni: Revisi UU Pemilu Harus Mengakomodasi Kekhususan Papua
JPNN.com




