Mengakhiri Perang Suku di Papua

Oleh: Hironimus Hilapok, M.Si, M.M - Direktur Satu Honai Indonesia Foto: Source for JPNN

Mengakhiri Perang Suku di Papua
Direktur Satu Honai Indonesia Hironimus Hilapok, M.Si, M.M. Foto: Source for JPNN

Sepanjang tahun itu, konflik di Kwamki Narama menunjukkan mediasi tanpa pengamanan, pengawasan, dan kepastian penegakan hukum kerap gagal menahan eskalasi; korban bahkan dilaporkan terus bertambah hingga sedikitnya tujuh orang meninggal.

Dampaknya langsung terasa pada sekolah, mobilitas warga, dan rasa aman masyarakat. Pesannya jelas: konflik tidak cukup dipadamkan sesaat, tetapi harus diakhiri sampai ke akar masalah.

Wamena menunjukkan rapuhnya perdamaian yang dibiarkan menggantung.

Bentrokan di Jayawijaya pada pertengahan Mei 2026 menewaskan dua orang, melukai sedikitnya 19 hingga 21 orang, dan memaksa ratusan warga mengungsi.

Laporan lapangan juga mencatat 609 orang mencari perlindungan di Mako Polres Jayawijaya.

Rumah dan honai di sekitar Kali Uwe, Wouma, ikut terbakar. Akar konfliknya bukan perkara baru: bermula dari kecelakaan lalu lintas pada 17 Mei 2024, berlanjut ke bentrokan susulan pada Juni 2024, lalu diselesaikan melalui musyawarah adat dengan denda Rp 2 miliar dan 30 ekor babi.

Ketika pembayaran pada Mei 2026 dinilai tidak sesuai kesepakatan, konflik pun meledak lagi. Artinya, yang tampak selesai sesungguhnya hanya tertunda.

Tanpa kepastian, dokumentasi, pengawasan, dan daya paksa hukum, perdamaian mudah berubah menjadi jeda sebelum ledakan berikutnya.

Setiap terjadi konflik antarsuku di Papua menyisakan pertanyaan yang sama: sampai kapan orang Papua kehilangan nyawa di tangan sesamanya sendiri?

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News