Menimbang Peluang Indonesia Bernegosiasi dengan AS soal Tarif Resiprokal
Wijayanto juga menyatakan bahwa status Indonesia sebagai anggota BRICS tidak memberikan pengaruh signifikan dalam negosiasi ini. Contohnya, negara lain seperti Thailand yang bukan anggota BRICS juga tetap dikenakan tarif tinggi.
Meski demikian, Wijayanto mengimbau Pemerintah Indonesia untuk tidak terpancing secara emosional dalam merespons kebijakan tersebut.
Menurutnya, langkah Trump justru bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengevaluasi ulang penawaran dagang yang diberikan kepada AS.
"Jangan terprovokasi, jangan berusaha terlalu all out untuk mendapatkan penurunan tarif," ujarnya lagi.
Wijayanto menambahkan ada tiga hal utama yang perlu menjadi fokus Pemerintah Indonesia saat ini.
Pertama, memperluas dan memperkuat kerja sama dagang serta investasi dengan lebih banyak negara melalui berbagai platform internasional.
Kedua, meningkatkan daya tarik investasi dan membenahi iklim berusaha di dalam negeri.
Ketiga, memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) digunakan secara optimal untuk menciptakan lapangan kerja dan menjaga daya beli masyarakat.(antara/jpnn)
Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai masih adanya peluang yang masih terbuka bagi Indonesia untuk menurunkan tarif resiprokal AS
Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul
- Iran-AS Damai, Purbaya Punya Kabar Baik soal APBN
- IHSG Bergerak Menguat, Analis Optimistis Makin Cerah
- 5 Berita Terpopuler: Gaji PPPK Tendik Masuk APBN, tetapi PP Dana Pensiun Belum Terbit, Seskab Teddy Beri Perhatian
- Ekonom Ungkap Harga Pertamax Naik untuk Menjaga Kepercayaan Investor
- Gaji PPPK Tendik Masuk APBN, FHNK2-I: Kami Belum Gembira, Perjuangan Belum Selesai!
- Grup D Piala Dunia 2026: AS Vs Paraguay 4-1, Pochettino Bangga, Sayang Pulisic Cedera
JPNN.com




