Menimbang Peluang Indonesia Bernegosiasi dengan AS soal Tarif Resiprokal

Menimbang Peluang Indonesia Bernegosiasi dengan AS soal Tarif Resiprokal
Presiden AS Donald Trump. Foto: Mandel Ngan/AFP

Wijayanto juga menyatakan bahwa status Indonesia sebagai anggota BRICS tidak memberikan pengaruh signifikan dalam negosiasi ini. Contohnya, negara lain seperti Thailand yang bukan anggota BRICS juga tetap dikenakan tarif tinggi.

Meski demikian, Wijayanto mengimbau Pemerintah Indonesia untuk tidak terpancing secara emosional dalam merespons kebijakan tersebut. 

Menurutnya, langkah Trump justru bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengevaluasi ulang penawaran dagang yang diberikan kepada AS.

"Jangan terprovokasi, jangan berusaha terlalu all out untuk mendapatkan penurunan tarif," ujarnya lagi.

Wijayanto menambahkan ada tiga hal utama yang perlu menjadi fokus Pemerintah Indonesia saat ini.

Pertama, memperluas dan memperkuat kerja sama dagang serta investasi dengan lebih banyak negara melalui berbagai platform internasional.

Kedua, meningkatkan daya tarik investasi dan membenahi iklim berusaha di dalam negeri.

Ketiga, memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) digunakan secara optimal untuk menciptakan lapangan kerja dan menjaga daya beli masyarakat.(antara/jpnn)

Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai masih adanya peluang yang masih terbuka bagi Indonesia untuk menurunkan tarif resiprokal AS


Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News