Merespons Gejolak Timur Tengah
Oleh: Laurens Ikinia - Peneliti di Institute of Pacific Studies dan Dosen Hubungan Internasional UKI, Jakarta
jpnn.com - April 2026 ini merupakan bulan bertabur ujian bagi perekonomian global.
Konflik di Timur Tengah kian memanas, setelah eskalasi militer yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat mengirim gelombang kejut ke pasar energi dunia.
Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen dari pasokan minyak global, mendadak jadi zona bahaya.
Harga minyak meroket, kekhawatiran akan kelangkaan melanda banyak negara. Indonesia pun tak luput dari ancaman ini.
Namun, di tengah kepanikan global, Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo justru menunjukkan sejumlah langkah antisipatif yang terstruktur, menggabungkan diplomasi agresif dengan fondasi ekonomi domestik yang mulai diperkuat.
Ketegangan di Timur Tengah bukan sekadar berita internasional bagi Indonesia. Negara ini, yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak mentahnya, merasakan langsung dampak gangguan distribusi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengungkapkan, sekitar 20 hingga 25 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah.
Dengan ditutupnya Selat Hormuz, aliran dari sumber-sumber tradisional seperti Arab Saudi dan Irak terancam terputus.
Konflik di Timur Tengah kian memanas, setelah eskalasi militer yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat mengirim gelombang kejut ke pasar energi dunia.
- Ribka Haluk Bantah Pemotongan Dana Otsus Papua, Begini Faktanya
- Heboh Pembubaran Nobar Film Pesta Babi, Menko Yusril Singgung Proyek Era Jokowi
- Soroti Polemik Film Pesta Babi, Prof. Sam'un Ajak Publik Melihat Papua Secara Utuh
- Rusdin Tahir: Papua Harus Dilihat Secara Utuh, Tidak Parsial
- Ketum AIT Menyoroti Komentar Novel Baswedan Soal Film 'Pesta Babi'
- Di Rakorwil PSI Papua Selatan, Kaesang Sebut Paskalis Imadawa Layak Jadi Gubernur
JPNN.com




