Merespons Gejolak Timur Tengah

Oleh: Laurens Ikinia - Peneliti di Institute of Pacific Studies dan Dosen Hubungan Internasional UKI, Jakarta

Merespons Gejolak Timur Tengah
Peneliti di Institute of Pacific Studies dan Dosen Hubungan Internasional UKI, Jakarta Laurens Ikinia. Foto: Source for JPNN.com

Menghadapi situasi ini, pemerintah tidak tinggal diam. Strategi utama yang ditempuh adalah diversifikasi sumber pasokan secara masif.

Utusan Khusus Presiden untuk Lingkungan Hidup dan Energi Hashim Djojohadikusumo menyebut, Indonesia sedang mengalihkan pembelian energi ke Amerika Serikat. Kesepakatan dagang yang baru saja diteken bulan lalu menjadi kunci.

Indonesia berkomitmen untuk membeli energi senilai sekitar 15 miliar dolar AS dari AS, termasuk LNG, minyak mentah, dan produk-produk lainnya.

Langkah ini diperkuat oleh pernyataan Menteri Bahlil yang menyebutkan bahwa pemerintah tengah menjajaki kontrak jangka panjang dengan pemasok dari Amerika Serikat, Australia serta negara-negara Afrika seperti Nigeria dan Angola.

Dengan memecah ketergantungan pada satu kawasan rawan konflik, Indonesia berharap dapat menjaga stabilitas pasokan meskipun harga di pasar internasional tengah melambung tinggi.

Stok energi nasional sendiri masih terbilang aman, dengan cadangan BBM, minyak mentah, dan LPG rata-rata berada di atas standar minimum 21 hari.

Proyeksi Ekonomi

Lonjakan harga minyak menjadi konsekuensi tak terhindarkan dari konflik ini. Data per 24 Maret 2026 menunjukkan, harga minyak mentah jenis Brent telah mencapai US$ 103,54 per barel, bahkan sempat menyentuh level US$ 112,18 per barel.

Konflik di Timur Tengah kian memanas, setelah eskalasi militer yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat mengirim gelombang kejut ke pasar energi dunia.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News