Moses, Jawara Matematika Dunia, Penemu Aplikasi Pengelolaan Sampah

Moses, Jawara Matematika Dunia, Penemu Aplikasi Pengelolaan Sampah
Moses Mayer, pelajar Jakarta Intercultural School ini telah meraih berbagai penghargaan kelas dunia dalam bidang bahasa, matematika, sains, robotika, informatika dan komputasi. Foto: Ist

jpnn.com, JAKARTA - Satu lagi siswa Indonesia yang mengharumkan nama bangsa Indonesia di tingkat dunia. Dia adalah Moses Mayer, pelajar Jakarta Intercultural School ini telah meraih berbagai penghargaan kelas dunia dalam bidang bahasa, matematika, sains, robotika, informatika dan komputasi.

Hebatnya lagi, di usia belia, Moses sudah mengembangkan SampahLink, sebuah aplikasi smartphone untuk pengelolaan sampah. Melalui aplikasi ini, dia melakukan sejumlah kegiatan peningkatan kesejahteraan para pemulung. Seperti memberikan bantuan microfinance untuk pengadaan alat dan pendidikan para pemulung serta komunitasnya.

Moses sudah berprestasi sejak masih di sekolah dasar hingga saat ini di kelas 12. Dia memenangkan banyak penghargaan olimpiade maupun kompetisi matematika serta informatika atau computer science di tingkat nasional maupun internasional. Di antaranya medali emas OSN, medali emas National Olympiad in Informatics di Singapura, medali perunggu Internasional Olympiad of Metropolises di Moscow, medali perunggu di Junior Balkan Mathematics Olympiad di Romania, hingga medali-medali dan penghargaan bidang matematika maupun bidang informatika di Cina, Kazakhstan, Hong Kong dan lainnya.

Bagi Moses, JIS sangat berperan dalam memperkuat minatnya terhadap matematika dan computer science. “Sejak saya baru masuk JIS, para guru mengizinkan agar saya mengambil kelas matematika di atas tingkat kelas saya, agar saya dapat belajar banyak hal. JIS juga mendukung saya ketika saya berangkat ke Olimpiade atau mengikuti pembinaan dan pelatihan nasional,” ujarnya di Jakarta, Jumat (12/4).

Di sekolah, Moses meraih nilai sempurna A dan A* untuk semua mata pelajarannya, dan aktif dalam kegiatan-kegiatan sekolah. Dia pun berusaha menyebarkan kecintaan terhadap matematika kepada murid-murid lain dengan mendirikan Mu Alpha Tetha – Math Honor Society di JIS. Klub ini merupakan chapter pertama di Indonesia yang berpusat di Amerika Serikat. Dia juga merupakan bagian dari Student Council dan National Honor Society.

Matematika ternyata juga mengantarkan Moses untuk mengembangkan minatnya terhadap solusi masalah kebersihan di kota besar. Dalam research paper berjudul On the Game-Theoritics Model of Indonesia’s Pollution State, Moses menggunakan salah satu teori matematika, game theory, untuk membuat rumus matematika dalam mengatasi problem sampah. Penelitian itu ia kembangkan saat melakukan riset matematika di bawah mentor Carl Yerger dari Davidson College di Amerika Serikat. Inilah awal dari munculnya ide SampahLink.

“Saya sering melihat pemulung mengorek tempat sampah di pinggir jalan untuk mencari sampah kering yang bisa mereka jual untuk daur ulang,” beberanya.

Padahal, kata dia, banyak pihak (terutama rumah tangga) yang memiliki sampah kering justru bingung dalam mengelola sampah tersebut. Di sinilah muncul ide SampahLink yang menghubungkan para pemulung dengan pemilik sampah kering melalui aplikasi berbasis smartphone sehingga kedua pihak menjadi saling diuntungkan, serta dapat meningkatkan kesejahteraan para pemulung.

Moses Mayer, pelajar Jakarta Intercultural School ini telah meraih berbagai penghargaan kelas dunia dalam bidang bahasa, matematika, sains, robotika, informatika dan komputasi.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News