Motor Listrik Jadi Pilihan Mobilitas yang Kian Relevan di Tengah Penataan Subsidi Pertalite

Motor Listrik Jadi Pilihan Mobilitas yang Kian Relevan di Tengah Penataan Subsidi Pertalite
Motor listrik jadi pilihan mobilitas yang kian relevan di tengah penataan subsidi Pertalite. Foto: Ricardo/jpnn

Dengan skala kendaraan roda dua Indonesia yang sangat besar, AISMOLI memandang percepatan adopsi motor listrik dapat menghasilkan efek penghematan yang semakin signifikan.

Berdasarkan rasio penghematan konsumsi BBM yang pernah dihitung Kementerian ESDM, setiap satu juta sepeda motor yang beralih ke listrik setara dengan potensi pengurangan konsumsi BBM sekitar 356 juta liter per tahun. Artinya, peralihan 5 juta sepeda motor berpotensi mengurangi kebutuhan BBM sekitar 1,78 miliar liter per tahun, sementara 10 juta sepeda motor dapat mencapai sekitar 3,56 miliar liter per tahun.

Angka tersebut merupakan ilustrasi berdasarkan rasio perhitungan Kementerian ESDM dan realisasinya akan bergantung pada pola penggunaan kendaraan serta jenis BBM yang sebelumnya digunakan.

“Kalau dilakukan dalam skala jutaan kendaraan, manfaatnya bukan hanya dirasakan pemilik motor melalui biaya operasional yang lebih rendah. Negara juga memiliki peluang mengurangi konsumsi BBM dan ruang fiskal yang selama ini diperlukan untuk menjaga harga energi. Karena itu, motor listrik harus mulai dilihat sebagai bagian dari solusi efisiensi energi nasional,” kata Budi.

Dia menekankan bahwa masyarakat akan beralih apabila kendaraan listrik benar-benar memberikan manfaat yang kompetitif. Karena itu, percepatan adopsi harus berjalan bersama dengan peningkatan kualitas dan keselamatan produk, harga yang semakin terjangkau, ketersediaan suku cadang, jaringan layanan purnajual, infrastruktur pengisian maupun penukaran baterai, serta perlindungan konsumen.

Penguatan industri juga perlu melibatkan seluruh pelaku usaha yang telah berinvestasi dan berkontribusi di Indonesia, mulai dari produsen kendaraan dan baterai, industri komponen, bengkel dan jaringan distribusi, hingga penyedia infrastruktur.

“Peralihan tidak bisa hanya didorong oleh perubahan kebijakan BBM. Masyarakat harus memiliki alasan yang kuat untuk memilih motor listrik: produknya berkualitas, aman, ekonomis, dan mudah digunakan. Tugas industri adalah memastikan seluruh ekosistem itu tersedia,” ujar Budi.

Dia juga mendukung peningkatan penggunaan komponen dalam negeri yang berjalan seiring dengan penguatan kemampuan pemasok lokal. Kebijakan industri perlu menjaga kompetisi yang sehat serta memberikan ruang bagi seluruh pelaku yang memenuhi standar, melakukan investasi, menciptakan lapangan kerja, membangun layanan, dan memberikan perlindungan kepada konsumen.

Di tengah penataan subsidi Pertalite, motor listrik jadi pilihan mobilitas yang kian relevan.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News