Muhammadiyah Tak Ingin Ada Kekerasan Lagi di Lembaga Pendidikan

Muhammadiyah Tak Ingin Ada Kekerasan Lagi di Lembaga Pendidikan
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti. Foto: ANTARA/Katriana

jpnn.com, JAKARTA - Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti menilai tindak kejahatan seksual merupakan masalah serius dalam dunia pendidikan Indonesia. Dia juga menganggap seharusnya kasus kekerasan dalam bentuk apa pun tidak boleh terjadi di lembaga pendidikan.

Penilaian itu merupakan respons atas kasus pencabulan terhadap santriwati di Pondok Pesantren Majma'al Bahrain Shiddiqiyyah, Ploso, Jombang, Jawa Timur, yang diduga dilakukan oleh Moch Subchi Azal Tsani (MSAT) alias Bechi.

Mu'ti menuturkan berbagai penelitian menunjukkan pendidikan di Indonesia tidak bebas dari kasus pelecehan seksual. Menurutnya, hal itu tidak hanya terjadi di pesantren.

"Sekolah, madrasah, pesantren, bahkan lembaga yang dikelola oleh lembaga agama, tidak hanya Islam, lembaga agama lainnya pun tidak sepi dari berbagai kasus pelecehan seksual," kata Mu'ti di Jakarta Timur, Sabtu (9/7).

Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu menyatakan semua pihak harus berupaya mengembalikan lembaga pendidikan sebagai rumah yang melindungi anak-anak dari berbagai kemungkinan tindakan kekerasan.

"Sekolah menjamin zero place violence, tempat yang nihil dari kekerasan. Apa pun kekerasannya, tidak hanya kekerasan seksual," ucapnya.

Kasus pencabulan terhadap santriwati di Ponpes Majma'al Bahrain Shiddiqiyyah menjadi sorotan masyarakat luas. Tersangka kasus itu ialah Bechi.

Namun, polisi kesulitan menangkap Bechi. Polda Jawa Timur mengerahkan banyak personelnya untuk menangkap putra pengasuh Pesantren Majma'al Bahrain Shiddiqiyyah, Ploso, Jombang, Kiai Muchtar Mu'thi itu.

Muhammadiyah mengeklaim berbagai penelitian menunjukkan pendidikan di Indonesia tidak bebas dari kasus pelecehan seksual.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News