MUI: Banyak Dai Terdampak Pandemi tetapi Luput dari Perhatian

MUI: Banyak Dai Terdampak Pandemi tetapi Luput dari Perhatian
ACT memberikan dukungan kepada MUI membantu dai dan pesantren. Foto tangkapan layar

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis menyatakan di masa pandemi Covid-19 banyak dai yang terkena dampak ekonomi.

Namun, mereka menjaga iffah atau kehormatannya sebagai seorang dai. 

"Kami menyaksikan langsung, banyak dai di rumah tidak punya gas, tidak punya beras, tetapi saat berangkat dakwah, mereka (para dai) seakan seperti orang kaya. Mereka memakai parfum dan baju bagus," ujar Cholil Nafis, Rabu(15/6). 

Fakta tersebut disadari oleh MUI dari laporan berbagai ormas yang berada di bawah naungannya, juga dari realitas langsung yang ditemukan di masyarakat. Namun, kondisi mereka sering luput dari perhatian.

"Hal ini berdampak pada berkurangnya kegiatan dakwah karena ketiadaan biaya, juga akibat adanya berbagai pembatasan aktivitas. Meski sebelumnya, kondisi ekonomi mereka juga tak lebih baik," tutur Cholil Nafis. 

Dijelaskannya para dai memang tidak akan menampakkan kekurangan itu.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah itu, kerap ditemui banyak guru mengaji, imam salat, marbot masjid dan dai-dai kesulitan ekonomi.

Oleh karena itu, orang-orang yang diberi keluasan rezeki seharusnya mendukung Gerakan Nasional Sejahterakan Dai Indonesia yang dilakukan MUI bersama Aksi Cepat Tanggap (ACT). 

Ketua MUI mengungkapkan banyak dai di rumah tidak punya gas dan beras, tetapi saat berangkat dakwah selalu berpakaian rapi.