Nasib KIP 44.000 Mahasiswa Papua?

Oleh: Laurens Ikinia - Peneliti di Institute of Pacific Studies dan Dosen Hubungan Internasional UKI Jakarta. Foto: Source for JPNN.com

Nasib KIP 44.000 Mahasiswa Papua?
Peneliti di Institute of Pacific Studies dan Dosen Hubungan Internasional UKI Jakarta Laurens Ikinia. Foto: Source for JPNN.com

jpnn.com -  

Angka berikut cukup menggambarkan kondisi memprihatinkan di Tanah Papua.

Dari 60.000 mahasiswa perguruan tinggi swasta di Bumi Cenderawasih, hanya 27.000 yang masih aktif kuliah.

Sisanya, lebih dari separuhnya, terpaksa berhenti di tengah jalan. Sebabnya tunggal: biaya.

Angka ini menjadi cermin pahit bahwa program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah—yang dirancang sebagai instrumen pemerataan akses pendidikan tinggi—masih menghadapi tantangan besar dalam implementasinya di daerah dengan kondisi geografis, sosial, dan ekonomi yang jauh berbeda dari pusat pemerintahan di Jakarta.

Tahun 2026 menjadi tahun transisi penting bagi program beasiswa unggulan ini.

Melalui Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2025, pemerintahan Prabowo-Gibran resmi memberlakukan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai sumber utama penyaluran bantuan sosial, menggantikan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) yang selama ini digunakan.

Dalam kerangka baru, prioritas penerima KIP Kuliah adalah masyarakat dari kelompok sangat miskin hingga rentan miskin—yang terdata pada desil 1 hingga 4 DTSEN.

Dari 60.000 mahasiswa perguruan tinggi swasta di Bumi Cenderawasih, hanya 27.000 yang masih aktif kuliah.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News