Naturalisasi Politik dan Klub Kekuasaan: Ketika Partai Menjadi Perusahaan Keluarga
jpnn.com - Ada masa ketika partai politik menjual diri sebagai simbol perubahan. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pernah tampil sebagai partai anak muda: berani, bersih, dan melawan korupsi.
Poster mereka rapi, jargon mereka idealis, wajah-wajahnya segar. Banyak orang percaya partai ini akan menjadi harapan baru di tengah kebusukan politik lama.
Namun, waktu membuktikan bahwa idealisme tanpa fondasi hanya bertahan sampai pintu kekuasaan terbuka.
Hari ini, PSI tidak lagi bicara tentang politik baru. Mereka menjalankan pola lama dengan kemasan baru — politik yang berbasis transaksi, bukan gagasan.
Masuknya tokoh-tokoh dari partai lain menunjukkan arah perubahan itu.
PSI kini mengandalkan strategi naturalisasi politik: merekrut pemain dari klub lain untuk memperkuat tim yang kehilangan talenta sendiri. Alih-alih membangun kader, mereka membeli pengaruh.
Alih-alih melahirkan pemimpin, mereka menampung pemain cadangan yang tersisih di partai lama.
Di antara wajah-wajah baru itu, ada tipe politisi yang tak pernah menetap. Dulu mendukung satu pihak dengan semangat berlebihan, lalu menghujatnya tanpa malu ketika arah angin berubah.
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pernah tampil sebagai partai anak muda: berani, bersih, dan melawan korupsi.
- Di Rakorwil PSI Papua Selatan, Kaesang Sebut Paskalis Imadawa Layak Jadi Gubernur
- Bikin Kegiatan APMI, PKS Ingin Cetak Calon Pemimpin Visioner dan Berspiritual
- Tunjukkan Kantor Baru ke Kaesang, PSI Papua Pegunungan: Selamat Datang di Honai Kami
- Hadiri Rakorwil PSI, Kaesang Tegaskan Papua Pegunungan Harus Semaju Daerah Lain
- Serap Aspirasi Siswa Papua Tengah, Kaesang Berjanji Sampaikan ke Pemerintah Pusat
- Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Kader Teriakkan Nama Jokowi
JPNN.com




