Neo Kolonialis-Imperialis di Indonesia

Oleh: Choky Askar Ratulela

Neo Kolonialis-Imperialis di Indonesia
Sekretaris Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Jakarta Pusat, Choky Askar Ratulela. Foto: Dokpri for JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Indonesia merupakan Negara yang kaya akan segalanya. Berbagai tumpukan kekayaan itu membuat mata dunia memandang penting keberadaannya. Berbagai sumberdaya di negara dengan pulau, laut, hutan tropis terbesar di dunia ini memikat para 'pencari harta' untuk rela menjelajahi samudera guna mengambil barang berharga di negeri 'Atlantis' ini.

Para pemburu harta karun yang tercatat dalam perjalanan waktu bumi Nusantara antara lain, Spanyol, Portugis, Inggris, Belanda dan Jepang yang tercatat berkisar pada tahun 1509 sampai dengan hari kemerdekaan tahun 1945. Di antara para bangsa asing itu, negara yang paling lama berada di negara majemuk ini adalah Belanda. Tujuan awalnya adalah berdagang karena Indonesia memiliki aneka tumbuhan rempah. Karena terpikat akan 'keseksian' Indonesia, Belanda mengubah cara mereka yang sebelumnya berdagang dan menyebarkan agama, menjadi politik dagang dunia yang kita kenal paham kolonialisme. Di mana cara menguasai segala sumber daya di suatu negara tetapi tetap terhubung dengan negara asalnya. Mereka membangun kejayaan atau Imperiumnya guna memakmurkan negara asalnya. Berabad-abad lamanya penindasan dan pengisapan itu terjadi. Penjajahan itu mengubah bumi Nusantara yang jaya pada masa kerajaan harus patuh untuk dikuasai. Di mana hal ini berdampak negatif terhadap kehidupan masyarakat Indonesia saat itu. Dalam segala aspek kehidupan, baik itu aspek politik, ekonomi, agama, sosial budaya terutama kemanuasiaan yang merupakan pengalaman sejarah yang sangat pahit.

Dunia bergejolak ketika perang dunia kedua berlangsung. Pangkalan laut Amerika di bom-bardir oleh pesawat dari negeri sakura. Pada masa pra kemerdekaan Indonesia, sekutu yang di antaranya Amerika, British, Deutsch/Belanda dan Australia (ABDA) harus menarik kembali para pasukannya. Belanda yang berkedudukan di Nederland Of Hindie (Indonesia saat itu) harus melucuti senjata dan menyerah tanpa syarat atas negara fasis Jepang. Kedudukan Jepang di negara subur ini tidak berlangsung lama, terhitung tiga dekade lebih Jepang menjajah dan mempropagandakan seruan Asianya. Tetapi, setelah perang Pasifik (Bom atom di Hiroshima dan Nagasaki), Jepang akhirnya harus angkat kaki dari Indonesia. Pasca Kemerdekaan Indonesia, Dwitunggal Soekarno-Hatta menahkodai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan Dasar dan haluan Negara yaitu Pancasila sebagai falsafah hidup (Philosofische Grondslag) yang merupakan ideologi yang digali dari 'Rahim Ibu Pertiwi'.

Masa pembangunan nasional mencapai sosialisme Indonesia tidak serta merta berjalan mulus. Negara pertama yang merdeka setelah Perang Dunia kedua ini mendapat ancaman serius dari pihak-pihak yang tidak menyukai praktek ideologi dari bapak Proklamator tersebut. Berbagai gerakan saparatis gencar bergejolak guna melumpuhkan negara maritim dan agraris tersebut. Kedekatan Bung Karno dengan negara-negara di benua Asia-Afrika membuat Barat tak menyukai Bung Karno yang anti terhadap neo kolonialisme-imprealisme (Nekolim). Neo Kolonialisme-Imprealisme atau Nekolim adalah pembangunan dominasi barat terhadap sistem ekonomi politik dan lainnya atas negara lain (Imperialisme), maka dua kata itu dirangkai menjadi Neokolonialisme-Imperialisme (Nekolim) yang bersamaan dengan subversif asing ditunjuk oleh Ir. Soekarno sebagai musuh utama Revolusi Indonesia.

Secara definisinya, Nekolim bukanlah lagi bentuk kolonialisme atau penjajahan yang terkesan sarat akan kekerasan dan penderitaan dari negara yang terjajah. Namun, nekolim adalah bentuk penjajahan yang bersifat laten, nyaris tidak tampak secara fisik. Secara tidak sadar, negara-negara yang terjajah oleh kaum Nekolim akan mengalami ketergantungan pada mereka, utamanya dalam bidang ekonomi dan akan cukup memberikan pengaruh pada bidang ideologi.

Dengan modal penghisapan atas negara Asia-Afrika (Kulit berwarna) itu mereka (Neo Kolonialis-Imperialis) mampu mempolarisasikan keinginan mereka lewat sistem atau metode yang tak kasat mata. Praktek sistem ekonomi kapitalisme, globalisasi, dan pasukan kultural imprealisme diterapkan untuk mengontrol suatu negara. Nekolim membangun imperium dengan menggunakan teknologi dan perkembangan terbaru, dan dengan menggunakan sumber daya yang ada di daerah jajahan mereka.

Lembaga internasional, seperti United Nation/PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), NATO (North Atlantic Treaty Organization), IMF (International Monetary Foundations), Badan Kesehatan Dunia (WHO), World Tred Organizational (WTO) dan lainnya adalah alat operasi baru dengan dalil keamanan, ketertiban dan kemakmuran dunia. Inilah penghegemonian atau penjajahan gaya baru. Beberapa organisasi yang saya sebutkan diatas secara kerjanya, tidak perlu capek berperang fisik dan senjata agar luas wilayahnya, banyak keuntungannya dan mencapai kejayaan. Cukup dengan sistem ekonomi dan politik yang 'dikemas' sedemikian rapi dan elegan agar tatanan dunia baru atau 'The New World Order' dapat didirikan.

PBB sendiri ialah organisasi internasional yang didirikan pada masa sehabis perang dunia kedua. Badan ini merupakan pengganti Liga Bangsa-Bangsa untuk mencegah terjadinya konflik serupa atau dengan kata lain untuk perdamaian dunia. Kita bisa melihat dengan situasi sekarang, beberapa gejolak yang terjadi di belahan bumi Timur Tengah seperti Palestina, Israel, Iran dan lain sebagainya. Apakah aman dan tentram? Siapa orang-orang dibalik peristiwa tersebut. Kejadian sekarang syarat akan 'konspirasi'. Selain PBB, Bank Dunia atau IMF yang merupakan anak dari PBB sebagai organisasi induknya ini gencar mengeksplorasi negara-negara berkembang guna menyediakan dan menawarkan pinjaman.

Para pemburu harta karun yang tercatat dalam perjalanan waktu bumi Nusantara antara lain, Spanyol, Portugis, Inggris, Belanda dan Jepang yang tercatat berkisar pada tahun 1509 sampai dengan hari kemerdekaan tahun 1945.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News