Pakar: Kenaikan Harga Avtur Mengancam Sektor Pariwisata
jpnn.com, JAKARTA - Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi mewaspadai dampak kenaikan harga avtur terhadap beban operasional maskapai dan tarif tiket pesawat.
Lonjakan harga bahan bakar pesawat ini diprediksi akan memukul industri pariwisata nasional, seiring dengan berkurangnya minat masyarakat bepergian menggunakan moda transportasi udara.
Fahmy menjelaskan kenaikan harga avtur tidak terelakkan karena komoditas ini mengikuti mekanisme pasar global.
“Ya, saya kira avtur termasuk yang apa harganya ditentukan oleh mekanisme pasar, sama dengan Pertamax juga gitu ya,” ujar Fahmy saat dihubungi jpnn.com, dikutip Rabu (1/4).
Menurut Fahmy, avtur termasuk komponen biaya yang sangat krusial bagi industri penerbangan, karena peruntukannya yang spesifik.
Ketika harga avtur melonjak, biaya operasional maskapai secara otomatis membengkak, sehingga memaksa perusahaan melakukan penyesuaian strategi demi menjaga kelangsungan bisnis.
Dampak paling nyata bagi masyarakat yakni kenaikan tarif tiket pesawat.
Fahmy menilai maskapai penerbangan kemungkinan besar akan membebankan kenaikan biaya bahan bakar langsung kepada para penumpang agar perusahaan tidak menanggung kerugian.
Pengamat mewaspadai dampak kenaikan harga avtur terhadap beban operasional maskapai dan tarif tiket pesawat.
- Wamenpar: Wisata Gastronomi Berpotensi Besar Mendorong Pariwisata Berkualitas
- Soal Kenaikan Harga Pertamax, Hendri Satrio: Lagi-Lagi Seskab yang Pasang Badan
- Rupiah Melemah, Wisatawan Malaysia Berbondong-bondong ke Bandung
- Gelar Workshop, PIK Tourism Board Bahas Cara Pariwisata Berdampak Positif & Bernilai Lebih
- Lewat Desa Sejahtera Astra, Desa Les di Bali Kawinkan Wisata & Pelestarian Alam
- Gandeng PIK2, Tourism Malaysia Kenalkan Wisata Lewat Kuliner & Sediakan Diskon Menu
JPNN.com




