JPNN.com

PALEMBANG : Ajak Anak-anak Lukis Lingkungan

Jumat, 23 April 2010 – 17:26 WIB PALEMBANG : Ajak Anak-anak Lukis Lingkungan - JPNN.com
PALEMBANG : Ajak Anak-anak Lukis Lingkungan

PALEMBANG - Banyak cara memperingati hari lingkungan yang diperingati setiap tanggal 22 April, kemarin. Mulai dari lomba lukis bertemakan lingkungan hingga aksi simpatik bagi-bagi  bibit pohon mahoni.Di Swarna Dwipa misalnya berlangsung lomba lukis tingkat SD hingga SMP. Seorang peserta tingkat SD bernama Nabila, sibuk berkonsentrasi. Ia tak memerdulikan keadaan  sekitarnya. Sesekali ia mendongakkan kepala mengawasi keadaan sekitar. Setelah itu, kembali larut dalam aktivitasnya. Tangan mungilnya, bergerak lincah mencari pewarna yang diletakkan di sisi kanan-kirinya.

   

Sret...sret.. .sret..., ia menggoreskan pewarna jenis pastel di atas kertas yang ada di depannya. Saat itu siswi SD Harapan Mulia tersebut tengah mewarnai tanaman dengan warna hijau. Tak jauh dari lukisan tanaman tadi, gadis berambut hitam itu tak lupa menggambarkan tong sampah."Nah, kalau ada sampah, harus dibuang ke kotak sampah, biar lingkungannya bersih," jawabnya saat ditanya kenapa melukis kotak sampah. Setelah itu, ia kembali diam dan sibuk menyelesaikan pekerjaannya.

   

Sementara itu, MP Yudha Tawakkal, peserta lomba melukis lingkungan tingkat SMP  menampilkan hal berbeda. Menggunakan pensil sebagai goresan awal, ia melukis sebuah hutan gundul.Selain batang pohon yang kering dan tidak lagi ditumbuhi dedaunan, tanah di sekitar hutan tersebut dilukiskan retak-retak, menggambarkan bahwa hutan tersebut kekurangan dan kekeringan.Di bagian kanan lukisan, terlihat batang pohon yang bekas ditebang. Tampak di tengah-tengah hutan tersebut ada seorang petani bersama seorang anaknya yang kurus bertelanjang dada.

   

Mengenakan pakaian compang-camping, petani tadi menarik seutas tali yang diujungnya tertambat pada seekor kerbau kurus. "Kerbaunya kurang makan, jadi kurang gizi, makanya kurus," terang pelajar SMPN 55 Palembang itu.Dikatakan, lukisannya tersebut diberi judul "Gersang Hutanku, Ternakku Kelaparan". Alasan memilih judul tersebut, Yudha mengaku jika apa yang dilukiskannya sebagai bentuk protes sosial terhadap maraknya aksi pembalakan dan penebangan hutan secara liar.

   

Pasalnya, perbuatan tidak bertanggung jawab tersebut mengakibatkan terjadinya kerusakan alam sekitar. Padahal, tanaman dan hutan merupakan unsur yang penting demi kelestarian alam. "Nah, kalau terus ditebangi, nantinya Bumi kita ini akan semakin rusak, sehingga penduduk terkena musibah dan kelaparan," tandasnya.

Ketua pelaksana kegiatan Eva Masrifah mengatakan, memperingati Hari Lingkungan Hidup 2010, pihaknya menggelar lomba lukis untuk tingkat SD-SMP, SMA/SMK-umum. Mengambil tema "Lingkungan ku untuk masa depan ku", perlombaan diikuti sekitar 100 peserta lomba tingkat SD-SMP, dan 106 perserta lomba tingkat SMA/SMK-umum. "Khusus untuk lomba melukis SMA-umum kita siapkan 100 meter kanvas," terangnya.

     

Di Bundaran Air Mancur, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumsel, bekerja sama dengan empat organisasi lainnya, yaitu SHI Sumsel, SPI Sumsel, FMN dan PBT, membagikan bibit pohon mahoni. Dalam kegiatan yang mendapat sambutan antusias pengguna jalan itu, seribu batang bibit pohon mahoni ukuran 30 sentimeter dibagi gratis. Bahkan, beberapa pengendara mobil atau motor sengaja berhenti untuk mendapatkan bibit pohon tersebut.  "Makasih ya," ujar salah seorang remaja putri saat diberi bibit pohon.

   

Koordinator aksi Yuliusman mengatakan, kegiatan tahun 2010 ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. "Kalau tahun sebelumnya kita sendiri yang menanam pohon," ujar Yulius di sela-sela aksi.Dikatakan, pelestarian alam di Indonesia khususnya Sumsel sudah sangat mendesak. Pasalnya, kondisi lingkungan hidup sudah berada pada puncak yang sangat kritis. Contohnya penebangan liar bisa mengakibatkan hutan gundul dan rusaknya daerah aliran sungai (DAS). Akibatnya,  banjir terjadi dimana-mana, gempa bumi hingga pemanasan global.

   

"Ini semua akibat eksploitasi lingkungan yang berlebihan," tegasnya. Dikatakan, sepanjang tahun ini saja, Walhi Sumsel mencatat 86 kali bencana banjir dan tanah longsor di 15 kabupaten/kota se-Sumsel. Bahkan, bencana tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian materi, tapi juga merenggut nyawa warga. Total bencana yang terjadi menelan 9 korban jiwa. (mg13)

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...