Pangeran Mangkubumi: Jangan Ragukan Nasionalisme Saya
jpnn.com, JAKARTA - Seorang aktivis dan akademisi, Pangeran Mangkubumi merobek tangannya dengan pecahan kaca saat agenda diskusi publik di Gedung Pemuda Kota Tangerang terkait penyiraman air keras terhadap Aktivis Kontras Andrie Yunus.
Pangeran melakukan aksi spontan itu sebagai reaksi atas salah satu pernyataan peserta diskusi yang menyinggung soal jabatan Pangeran sebagai Sekjen GibranKu, organ pendukung Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dianggap tidak netral dan tidak cukup merepresentasikan keresahan masyarakat sipil.
Dalam responsnya, Pangeran menegaskan bahwa kehadiran dirinya sebagai pembicara di acara diskusi tersebut tidak membawa embel-embel jabatan apapun.
Dia secara lugas juga mengakui bahwa ia merupakan rakyat sipil biasa yang nasionalismenya tidak perlu diragukan lagi.
Bahkan Pangeran mengatakan dirinya siap mati dalam perjuangan membela hak-hak masyarakat sipil.
“Iya, itu aksi spontan, karena peserta menyinggung soal jabatan. Padahal saya hadir sebagai anak bangsa dan bagian dari masyarakat sipil yang mendorong adanya supremasi hukum dalam penyelesaian kasus Aktivis Kontras Andrie Yunus,” ujar Pangeran.
“Orang lain boleh menyerang dan menghina pribadi saya, tetapi jangan ragukan nasionalisme saya untuk kemajuan Republik ini.”
Sementara itu, Pangeran juga mendesak pihak kepolisian untuk tidak ragu ragu mengambil langkah taktis dan strategis dalam upaya mengungkap aktor intelektual dari kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus.
Seorang aktivis dan akademisi, Pangeran Mangkubumi menegaskan jangan meragukan nasionalismenya dalam memajukan Republik.
- Momen Kapolri Berseloroh Ingin Jadi Aktivis, Mau Demo Jumhur
- Al Araf: Penguntitan Islah Bahrawi Ancaman Serius Terhadap Kebebasan Sipil dan Demokrasi
- Tim Perlindungan Masyarakat Sipil: Hentikan Teror Terhadap Mahasiswa hingga Aktivis
- 4 Personel TNI Dituntut 2,5 Tahun Buntut Siram Air Keras ke Andrie Yunus
- Pengadilan Militer Gelar Sidang Tuntutan 4 Terdakwa Penyerangan Andrie Yunus
- Membunuh Pembawa Pesan: Budaya Membungkam Kritik?
JPNN.com




