Pasar Timah Global Ketat, Peran Indonesia Disebut Kian Menentukan
Beberapa negara produsen utama mengalami gangguan operasional maupun ketidakpastian kebijakan yang memengaruhi tingkat produksi.
Kondisi tersebut membuat keseimbangan pasar timah global cenderung berada dalam posisi yang ketat. Dalam situasi seperti ini, fluktuasi harga menjadi sesuatu yang sulit dihindari.
“Dalam beberapa tahun terakhir pasar timah global memang cenderung berada dalam kondisi defisit, ketika pertumbuhan permintaan lebih cepat dibandingkan peningkatan pasokan,” kata dia.
Dalam konteks itu, negara produsen timah memiliki peluang untuk memperkuat posisinya dalam rantai pasok global.
Dengan cadangan yang signifikan serta pengalaman panjang dalam pengelolaan pertambangan timah, Indonesia berada pada posisi yang strategis untuk memainkan peran tersebut.
Saat ini, posisi Indonesia disebut sebagai produsen timah terbesar kedua di dunia setelah China.
Adapun, berdasarkan data Perhapi, produksi bijih timah Indonesia sempat mencapai puncaknya pada 2023 sekitar 65.000 ton, kemudian turun menjadi sekitar 45.000 ton pada 2024, sebelum kembali meningkat menjadi sekitar 50.000 ton pada 2025.
Sejalan dengan pengetatan tata kelola tersebut, harga timah global juga mengalami lonjakan signifikan.
Pasar timah global pada 2026 diperkirakan masih bergerak dalam dinamika yang ketat.
- Kinerja Moncer, Bea Cukai Kantongi Rp1,44 Triliun dalam 4 Bulan
- Honda Merugi Pertama Kali dalam Sejarah, Bisnis EV jadi Sorotan
- Perang AS-Iran Masih Panjang, Purbaya Ungkap Strategi Menekan Impor BBM
- Produsen Otomotif China Dukung Insentif EV Berbasis Nikel dari Pemerintah
- Pemerintah Subsidi Motor Listrik Rp 5 Juta Per Unit, Mobil Bebas PPN
- Kata Jenderal Moeldoko soal Simpang Siur Pajak Kendaraan Listrik, Sentil Kemendagri
JPNN.com




