PDIP Belum Menghukum Deddy Sitorus, Pakar Singgung Sensivitas dan Kebatinan Publik
jpnn.com, JAKARTA - Pengamat politik Universitas Sebelas Maret (UNS) Agus Riewanto menegaskan, anggota DPR yang bersikap arogan dan bikin gaduh tidak cukup jika dinonaktifkan atau mengundurkan diri. Namun harus dilakukan pergantian antar waktu (PAW) oleh partai yang mengusung.
Pernyataan tersebut dikemukakan Agus Reiwanto, menjawab pertanyaan terkait sikap arogan anggota DPR RI, seperti Ahmad Syahroni (NasDem), Eko Patrio (F-PAN) Uya Kuya (F-PAN), Dedi Sitorus (F-PDIP), Nafa Urbach (F-NasDem)dan lainnya.
Menurut Agus, tidakan partai menonaktifkan anggot DRP tersebut menurutnya salah satu bentuk respon yang baik.
Hanya saja publik mempertanyakan apakah tidak aktif itu berarti akan di PAW atau bukan.
"Kalau itu bagian dari respons partai seharusnya ya dilakukan pergantian antar waktu, bukan dinonaktifkan ya. Kan dinonaktifkan itu kan baru dinonaktifkan dalam pengertian tidak tidak bekerja," ujar Agus saat ditemui di UNS.
Disinggung soal nama Deddy Sitorus anggota F-PDIP yang belum dikenakan sanksi oleh partainya, Agus memberikan komentar senada.
Selain rasa dari individu Deddy, permasalahan tersebut juga sangat tergantung pada mekanisme yang ada di partai banteng moncong putih.
"Kalau itu (mengundurkan diri atau tidsk) itu persoalan rasa ya. Soal bagaimana sensitivitas melihat suasana dan kebatinan masyarakat. Kalau dinonaktifkan itu tergantung mekanisme yang ada di partai," jelasnya.
Berbeda dengan NasDem dan PAN, PDIP tidak menjatuhkan sanksi kepada kadernya di DPR yang memicu kemarahan publik, Deddy Sitorus
- Megawati Beri Perhatian Khusus pada Disabilitas di Peresmian Istana Gebang
- Yasonna Laoly Desak Negara Tindak Tegas Judi Online dan Pinjol
- PSI Gencar Rekrut Kader Partai Lain Jelang Pemilu 2029, Pengamat: Hal Lumrah
- Megawati Kritik Minimnya Petugas Museum Istana Gebang: Harusnya Bisa 10 Orang
- Istana Ungkap Upaya Kembalikan Kepercayaan Publik
- Jokowi Bakal Pakai Jaket PSI, Deddy Ungkit Pemecatan dari PDIP
JPNN.com




