Peluncuran Buku Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagaman dan Kerja Kemanusiaan

Peluncuran Buku Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagaman dan Kerja Kemanusiaan
Acara peluncuran buku Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagamaan & Kerja Kemanusiaan di Jakarta, Selasa (20/1/2026). Foto: JMAI

Setelah mempelajari bahasa Indonesia, Maulana Rahmat Ali HAOT berangkat dari Qadian pada 17 Agustus 1925 dan tiba di Pelabuhan Tapaktuan, Aceh, pada 20 Oktober 1925. Tidak lama dari itu, pada 25 Desember 1925, sebanyak 15 pemuda Nusantara bergabung ke dalam Jemaat Ahmadiyah di Tapaktuan, dan pada tahun tersebut ditandai sebagai lahirnya dan hadirnya Muslim Ahmadiyah di Indonesia yang kini genap berusia 100 tahun pada 2025.

Amir Nasional Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia Zaki Firdaus Sahid S.T, M.T, menegaskan bahwa Muslim Ahmadiyah meyakini agama sebagai ra?matan lil-‘alamin dan hudan lin-nas. "Sejak awal kehadirannya di Indonesia pada tahun 1925, Ahmadiyah berupaya menapaki jalan damai melalui pendidikan, pengkhidmatan terhadap kemanusiaan, penguatan kerohanian serta menebar cinta kasih," ujarnya melalui siaran pers, Rabu (21/1/2026).

Amir Nasional juga menyampaikan bahwa perjalanan lebih dari 100 tahun ini tidak terlepas dari tantangan, dinamika sosial, serta berbagai tekanan. Dalam situasi tersebut, Jemaat Muslim Ahmadiyah memilih jalan kesabaran dan konsistensi, dengan keyakinan bahwa kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.

Disebutkan bahwa buku Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagamaan dan Kerja Kemanusiaan disunting oleh Prof. Ismatu Ropi dan Dedy Ibmar.

Dalam sambutannya, Prof. Ismatu Ropi menegaskan bahwa Jemaat Ahmadiyah sebagai kelompok keagamaan di Indonesia tidak pernah hadir dalam ruang yang hampa makna. Kehadirannya selalu bersinggungan dengan dinamika sosial, budaya, politik, dan keagamaan yang kompleks.

"Oleh karena itu, berbicara tentang Ahmadiyah tidak semata-mata membahas perbedaan teologis, melainkan juga bagaimana komunitas ini memaknai keberadaannya, membangun jejaring sosial, menghadapi tantangan, dan merumuskan masa depannya," ujarnya.

Prof. Ismatu Ropi menjelaskan bahwa buku ini disusun dalam dua jilid. Jilid pertama memotret 100 tahun keberagamaan dan kerja kemanusiaan Ahmadiyah di Indonesia dari berbagai perspektif.

Sementara, Jilid II secara khusus menyoroti tema-tema lanjutan, antara lain ketahanan dan kepemimpinan perempuan Ahmadiyah, keterlibatan Ahmadiyah dalam isu-isu kontemporer seperti lingkungan hidup dan demokrasi, jaringan solidaritas lintas iman, hingga perspektif legal dan konstitusional mengenai masa depan Ahmadiyah di Indonesia.

Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia telah meluncurkan buku berjudul Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagamaan & Kerja Kemanusiaan di Jakarta.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News