Peluncuran Buku Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagaman dan Kerja Kemanusiaan

Peluncuran Buku Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagaman dan Kerja Kemanusiaan
Acara peluncuran buku Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagamaan & Kerja Kemanusiaan di Jakarta, Selasa (20/1/2026). Foto: JMAI

Menurutnya, kedua jilid ini merupakan hasil refleksi dari 100 tokoh dengan latar belakang dan sudut pandang yang beragam. Keberagaman perspektif tersebut menjadikan buku ini bukan sekadar antologi tulisan, melainkan sebuah dialektika yang hidup antara pengalaman personal, analisis akademik, dan harapan kebangsaan.

Melalui pendekatan multidisipliner teologis, sosiologis, antropologis, politik, dan kultural, para editor ingin menunjukkan bahwa studi tentang Ahmadiyah menuntut pembacaan yang utuh dan berlapis.

Dedy Ibmar menambahkan bahwa proses penyusunan buku dilakukan melalui metode blind review. Setiap tulisan dikurasi tanpa mencantumkan identitas penulis di tahap awal, kemudian dikelompokkan ke dalam tema-tema besar agar alur pembacaan lebih utuh dan objektif.

Salah satu penulis dalam buku ini, Dr. (HC) Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama Republik Indonesia periode 2014–2019, menyampaikan bahwa Ahmadiyah selama ini terlalu banyak disalahpahami.

Menurutnya, yang kerap terjadi bukanlah persoalan niat, melainkan kesalahpahaman yang menyentuh isu-isu mendasar, terutama perkara teologis seperti kenabian, yang berdampak luas tidak hanya di Indonesia tetapi juga di tingkat global.

Lukman menilai bahwa soliditas dan kerapian organisasi Ahmadiyah sebagai ormas Islam global kerap dipersepsikan sebagai eksklusivitas, padahal kohesivitas tersebut merupakan kekuatan Muslim Ahmadiyah.

Dia menekankan pentingnya moderasi dalam memahami perbedaan keyakinan, termasuk pandangan Muslim Ahmadiyah yang tidak dimiliki oleh Muslim kebanyakan di Indonesia, serta menegaskan bahwa keberagaman merupakan keniscayaan dan sunnatullah, baik dalam Islam, Kristen, maupun Katolik.

Oleh karena itu, dia mengapresiasi buku ini sebagai jembatan dialog yang mampu memoderasi kesalahpahaman yang telah berlangsung lama. "Ahmadiyah adalah ormas Islam seluruh dunia yang paling solid, well organized, tidak ada ormas Islam yang dimanage serapih Ahmadiyah. Karena itu eksklusivitas, itu daya rekat, kohesivitas ini menjadi titik lemah yang disalahpahami," tuturnya.

Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia telah meluncurkan buku berjudul Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagamaan & Kerja Kemanusiaan di Jakarta.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News