Pemilu Raya PSI dan Demokrasi Internal Partai Politik

Oleh: Endang Tirtana

Pemilu Raya PSI dan Demokrasi Internal Partai Politik
Logo Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Foto: dokumen JPNN

Kongres yang rencananya akan digelar pada April lalu diundur tanpa kepastian, seiring ditahannya Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto.

Kalangan elite PDIP mendorong Megawati Soekarnoputri kembali memimpin dan menunjuk sekjen yang baru.

Ada pula sejumlah partai yang tidak lolos ke parlemen, di antaranya PPP yang menunda rencana muktamar bulan April lalu menjadi Agustus-September mendatang.

Partai Ummat menetapkan menantu Amien Rais kembali menjadi ketua umum pada Februari lalu di tengah penentangan sejumlah pengurus di daerah.

Lalu ada Perindo dan Hanura yang juga telah memilih ketua umum pada Juli-Agustus tahun lalu. Hary Tanoesoedibjo digantikan putrinya dalam musyawarah kerja nasional (Mukernas) Perindo, sedangkan Hanura kembali memilih mantan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Oesman Sapta Odang sebagai ketua umum.

One Man One Vote dalam Pemilu Raya PSI

Terobosan menarik muncul pada rencana Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk memilih ketua umumnya secara langsung dengan melibatkan seluruh anggota partai.

PSI menyiapkan mekanisme pemungutan suara secara elektronik (e-voting), di mana setiap kader partai mempunyai kesempatan yang sama untuk berpartisipasi memilih.

Terobosan menarik muncul pada rencana Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk memilih ketua umumnya secara langsung dengan melibatkan seluruh anggota partai

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News