Pengamat Anggap Kecil Kemungkinannya Demo Agustus Berubah Jadi Gejolak Sosial
jpnn.com, JAKARTA - Pengamat komunikasi politik Jamiluddin Ritonga menyebut rumor akan adanya aksi demo pada Agustus 2026 kiranya tak perlu dibesar-besarkan.
Hal demikian dikatakan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang berbicara peristiwa Nepal menyikapi demonstrasi pada akhir Agustus 2026.
"Sebab, di negara demokrasi aksi demo merupakan hal yang lazim," kata Jamiluddin melalui keterangan persnya, Selasa (21/7).
Dia mengatakan demonstrasi memang menjadi sarana untuk menyampaikan aspirasi, karena dilindungi konstitusi.
Jamiluddin menganggap aneh bila di negara demokrasi seperti Indonesia, tidak ada demonstrasi.
"Demokrasi di Indonesia bisa kehilangan rohnya," kata dia.
Jamiluddin menganggap kecil kemungkinan demonstrasi akhir Agustus 2026 nanti berubah menjadi gejolak sosial seperti di Nepal.
"Sampai ke sana tampaknya masih relatif kecil. Ada beberapa penyebabnya," lanjut pengamat dari Universitas Esa Unggul itu.
Pengamat Jamiluddin Ritonga menyebut TNI dan Polri solid mendukung pemerintahan Prabowo, sehingga peristiwa Nepal sulit terjadi di Indonesia.
- Pimpinan Komisi XIII Duga Ada Dalang di Balik Konten Hoaks Demonstrasi
- Menko Polkam Tak Larang Demonstrasi, Asal Jangan Anarkistis
- Menko Polkam: Kondisi Keamanan Indonesia Sangat Mantap, Masih Terkendali
- Datangi DPR, Masyarakat Sipil Menuntut Putusan MK soal MBG Dieksekusi pada 2027
- Warga Tanimbar Gelar Aksi Demonstrasi di Kedubes Jepang, Desak Penyelesaian Hak Tanah Adat Blok Masela
- KEMAKI Desak Kejati Jatim Hentikan Kriminalisasi & Jaga Profesionalitas Hukum
JPNN.com




