Pengamat Ingatkan Kerusakan Bangsa Dimulai Dari Elite yang Haus Kekuasaan
Dia lantas mengutip filsuf Yunani, Plato, pernah mengingatkan, 'The penalty good men pay for indifference to public affairs is to be ruled by evil men', di mana hukuman bagi orang-orang baik yang abai terhadap urusan publik adalah dipimpin oleh orang-orang jahat.
"Kalimat itu terasa relevan di banyak negara, termasuk Indonesia, ketika politik lebih dipenuhi pencitraan daripada gagasan, lebih sibuk mengelola loyalitas ketimbang meritokrasi," katanya.
Menurutnya, pemimpin yang haus kuasa biasanya tidak nyaman dengan kritik. Mereka cenderung membangun lingkaran penjilat, memelihara propaganda, dan menjadikan hukum sebagai alat melindungi kepentingan politik.
Dalam kondisi seperti itu, demokrasi memang masih tampak hidup secara prosedural, tetapi sesungguhnya kehilangan jiwa. Dampak sistemiknya bahkan sangat nyata.
"Kebijakan yang salah arah atau koruptif dapat merusak perekonomian, memperlebar jurang ketimpangan sosial, dan melumpuhkan pelayanan publik. Krisis kepercayaan pun muncul ketika pemimpin lalai dan kehilangan integritas. Pada akhirnya, rakyat menjadi apatis, masyarakat terbelah, dan negara kehilangan legitimasi moral di mata publik," ucapnya.
Dia mengatakan sejarah dunia dipenuhi contoh tentang kehancuran yang dimulai dari kepemimpinan buruk. Krisis ekonomi, perang saudara, kelaparan massal, hingga runtuhnya institusi negara hampir selalu berakar pada kombinasi antara ketidakmampuan dan kerakusan elite politik.
"Rakyat kecil menjadi korban pertama. Harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja menyusut, sementara korupsi justru tumbuh subur di tengah penderitaan masyarakat," kata dia.
Tak hanya itu, Pieter Zulkifli kemudian mengutip ekonom peraih Nobel, Amartya Sen, yang pernah menjelaskan bahwa bencana kelaparan modern jarang terjadi di negara yang demokratis dan memiliki pers bebas.
Pieter Zulkifli mengatakan kehancuran sebuah bangsa sering kali bukan dipicu bencana alam, melainkan lahir dari kekuasaan yang kehilangan akal sehat dan nurani.
- Luncurkan B50, Prabowo Kutuk Pemimpin yang Membohongi Rakyatnya
- Ray Rangkuti Sebut Ada Indikasi ‘Kudeta Merambat’ di Indonesia, Begini Penjelasannya
- Muslim Arbi Ingatkan Pentingnya Menilai Rekam Jejak Pengkritik Pemerintah
- Pengamat Tegaskan Supremasi Hukum Harus Tetap Jadi Fondasi Bernegara
- Prabowo: 4 Kali Kalah, Saya Tidak Mengganggu Pemimpin yang Dapat Mandat dari Rakyat
- Pengamat Sebut Pemberantasan Korupsi Tak Maksimal jika Tak Ada Perbaikan pada Sistem
JPNN.com




