Pengamat Nilai DME Batu Bara Justru Jadi Beban Emisi Baru
“Emisi DME secara signifikan jauh lebih tinggi dari LPG. Jadi, DME tidak akan mengurangi, tetapi justru menambah emisi CO2 dari batu bara baik dari sisi produksi maupun penggunaan,” kata Tata.
Menurutnya, penggunaan DME juga tidak menggantikan konsumsi batu bara di sektor pembangkit listrik, sehingga total emisi tetap bertambah dari dua sisi, yakni produksi energi dan konsumsi rumah tangga.
Di sisi lain, Pengamat Energi Migas Hadi Ismoyo melihat persoalan emisi DME tidak bisa hanya dinilai dari tahap pembakaran akhir.
Hadi menekankan pentingnya pendekatan well-to-wheel yang menghitung seluruh proses produksi hingga penggunaan.
"Secara pembakaran akhir, emisi DME terlihat setara dengan LPG dan BBM. Namun proses coal to syngas melepaskan emisi dalam jumlah besar, sehingga total emisinya tetap tinggi," jelas Hadi.
Perdebatan itu menunjukkan bahwa proyek DME berada di persimpangan antara ambisi kemandirian energi dan komitmen penurunan emisi.
Tanpa intervensi teknologi tambahan seperti CCUS yang juga membawa konsekuensi biaya, DME berisiko menjadi solusi energi yang justru memperbesar jejak karbon nasional. (mcr4/jpnn)
Sejumlah pengamat menilai, tanpa intervensi teknologi tambahan, proyek ini justru berpotensi menambah beban emisi nasional.
Redaktur : M. Adil Syarif
Reporter : Ryana Aryadita Umasugi
- ESG di Sektor Batu Bara Harus Dipantau Secara Holistik
- Subsidi Energi, DEN Sebut DME Juga Bisa Dongkrak Nilai Tambah Ekonomi
- Kebutuhan Kontraktor Makin Meningkat, Andalan Artha Primanusa Perkuat Kemitraan Strategis
- Alasan Pemerintah Mempertahankan Batu Bara
- Komisi XII DPR RI Dorong Transaksi Batu Bara DMO Gunakan Rupiah untuk Perkuat Ketahanan Energi
- Kejagung Tetapkan Tersangka Baru Kasus Korupsi Samin Tan, Pengamat Singgung Aktor Besar
JPNN.com




