Jumat, 16 November 2018 – 23:47 WIB

Pengembangan Sains di Indonesia Dinilai Rendah

Rabu, 03 Agustus 2011 – 20:08 WIB
Pengembangan Sains di Indonesia Dinilai Rendah - JPNN.COM

DEPOK - Perhatian bangsa dan negara Indonesia terhadap pengembangan pendidikan sains dan teknologi dinilai masih sangat rendah dan masih harus ditingkatkan. Rektor Universitas Indonesia (UI), Gumilar Rusliwa Soemantri menerangkan, hal tersebut dipicu adanya praktik-praktik di dalam masyarakat Indonesia yang belum kondusif.

"Misalkan saja, penghargaan pada sarjana-sarjana di bidang sains dan teknologi, penghargaan pada riset dan inovasi. Masyarakat kita belum benar-benar menghargai inovasi, meskipun sekarang mulai tumbuh kesadaran bahwa inovasi itu penting. Tanpa sains dan teknologi maju, tidak mungkin muncul inovasi. Tanpa inovasi, tidak akan ada peradaban," ungkap Gumilar ketika ditemui di Kampus UI, Depok, Rabu (3/8).

Jika pengembangan pendidikan sains dan teknologi ini maju, lanjut Gumilar, maka proses pendidikan sains dan teknologi harus terus dikembangkan, serta minat pada sains dan teknologi juga harus terus didorong. "Format pendidikan di TK, SD, SMP, SMA, harus sudah mulai memberikan ruang untuk menumbuhkan minat yang tinggi dan tidak fobia pada sains dan teknologi. Seperti matematika dan sains yang ditakuti. Harus ditumbuhkan (rasa) suka melihat alam dan mengutak-atik angka. Hubungan antara guru sains dan matematika juga kerap kaku dan tidak menyenangkan, sehingga mata pelajaran itu menjadi tidak menyenangkan," paparnya.

Maka dari itu, salah satu upaya untuk mendongkrak kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pendidikan sains dan teknologi, menurut Gumilar pula, harus ada peran industri. Menurutnya, sah-sah saja jika ada industri asembling otomotif ikut melakukan riset di negara mereka masing-masing yang kemudian Indonesia membangun pabrik di sini.

"Prototipe yang di sana, dibangun di sana lalu dijual. Jadi hanya dua section saja yang penting, manufacturing department dan sales marketing. Kalau di tempat lain itu namanya industrialisasi, di kita masih industrialisasi semu, termasuk joint venture. Tidak ada riset di kita. Yang di kita hanya riset hal-hal yang lebih tersier, seperti warna dan lain-lain. Kita ingin menumbuhkan semacam kemandirian di bidang industri. Jadi bukan hanya industrialisasi semu," pungkasnya.

Dengan begitu, Gumilar mengatakan, pemerintah, pengusaha dan semua kalangan, harus mulai merevitalisasi industri kecil dan menengah, menumbuhkan wiraswasta baru dan entrepreneur muda untuk membangun industri di negeri sendiri, sehingga riset dan sains ini menjadi tahu apa yang dibutuhkan. Dalam hal ini katanya, inovasi dibutuhkan. "Kalau itu terjadi, bangsa ini akan maju," ujarnya. (cha/jpnn)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar