Penjajahan Digital Mengintai, Wamenkomdigi Minta Publik Waspada Algoritma
jpnn.com, JAKARTA - Generasi muda Indonesia saat ini tengah menghadapi ancaman gaya baru di era modern.
Bukan lagi soal perebutan wilayah, melainkan bentuk penjajahan digital yang menyasar cara berpikir, perilaku, hingga persepsi publik.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan masyarakat saat ini hidup dalam ruang digital yang dikendalikan platform dan algoritma media sosial.
Hal itu membuat manusia semakin sulit membedakan mana fakta, opini, hingga manipulasi informasi.
“Hari ini hidup kita dimediasi platform digital. Bahkan isi kepala kita perlahan dibentuk algoritma. Apa yang kita suka terus diperlihatkan, sementara pandangan lain disingkirkan. Kita hidup dalam filter bubble dan echo chamber,” ujarnya melalui keterangan resmi diterima di Jakarta, Minggu.
Dia menilai kondisi tersebut menjadi ancaman serius karena dapat memicu polarisasi sosial, memperkuat misinformasi, dan melemahkan kemampuan berpikir kritis masyarakat, terutama generasi muda.
Dia mengutip laporan World Economic Forum yang menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai salah satu risiko global terbesar 2026, bahkan melampaui banyak ancaman geopolitik dunia.
“Sekarang orang lebih dulu percaya sentimen dibanding fakta. Kalau suka langsung dipercaya, kalau tidak suka langsung ditolak. Ini yang berbahaya,” tegasnya.
Wamenkomdigi Nezar Patria mengatakan masyarakat saat ini hidup dalam ruang digital yang dikendalikan platform dan algoritma media sosial.
- Salesforce Bidik Jutaan UMKM Indonesia Lewat Layanan Kecerdasan Buatan
- Hadir di Jakarta, Weplay Universe Jadi K-Entertainment Space Pertama di Indonesia
- Bank Mandiri Hadirkan Layanan yang Lebih Nyaman bagi Nasabah
- Universitas Bakrie Ingatkan Ancaman AI terhadap Ketahanan Budaya Lokal
- Dari Satdik 1 ke Dunia Digital, Letkol Marinir Edy Effendi Menginspirasi Generasi Muda
- M2P Fintech Dorong Industri Keuangan Perkuat Fraud Management System Berbasis AI
JPNN.com




