Pentingnya Unit Intelijen Digital Bawaslu
Oleh: Benny Sabdo - Anggota Bawaslu DKI Jakarta; Pengajar Fakultas Hukum Universitas Adhyaksa
Intelijen digital bukan tentang mengawasi privasi warga, melainkan tentang menjaga kejujuran kompetisi pemilu.
Membangun unit intelijen digital di Bawaslu tentu bukan tanpa risiko. Tantangan utamanya adalah menjaga garis api antara pengawasan demokrasi dan pengawasan urusan privasi.
Bawaslu harus memiliki protokol yang ketat agar instrumen ini tidak disalahgunakan untuk kepentingan politik praktis.
Selain itu, kendala klasik adalah ketimpangan teknologi. Di saat para aktor manipulator menggunakan teknologi mutakhir, pengawas pemilu kerap masih terjebak dalam kendala birokrasi dan keterbatasan infrastruktur teknologi.
Kolaborasi dengan pakar keamanan siber, akademisi yang paham data, dan lembaga Badan Siber dan Sandi Negara menjadi mutlak dilakukan.
Fenemona ini menuntut demokrasi Indonesia seharusnya memperkuat sistem pengawasannya. Jika para pelanggar hukum sudah menggunakan teknologi tingkat tinggi untuk memanipulasi, maka Bawaslu tidak punya pilihan lain untuk menjadi lembaga yang melek secara digital.
Kekuatan dan keberlanjutan demokrasi di Indonesia sangat bergantung pada ketatnya sistem pengawasan yang diterapkan.
Ketika para pelaku kecurangan mulai memanfaatkan teknologi mutakhir untuk memanipulasi, serta merekayasa perolehan suara, tantangan bagi integritas pemilu menjadi jauh lebih kompleks.
Ketika kampanye beralih ke ruang siber, maka ada urgensi bagi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) untuk bertransformasi.
- Analisis Andi Widjajanto soal Demokrasi Terpuruk & Publik Kian Tak Puas pada Prabowo
- Jelang Purnabakti, Lolly Suhenty Dorong Refleksi Kepemimpinan Bawaslu
- Bawaslu Ingatkan Risiko E-Voting, Soroti Pengalaman Jerman
- Info Dasco soal 8 WNI Direkrut Jadi Militer Negara Asing
- Prabowo Naikkan Anggaran PPATK 100 Persen, Intelijen Keuangan Diperkuat
- Efriza: Pernyataan Budi Arie Jadi Blunder buat Jokowi dan Geng Solo
JPNN.com




