Perang Timteng Kembali Pecah, Rupiah Tembus Rp 18.066 Per USD
jpnn.com, JAKARTA - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah (Timteng).
Nilai tukar rupiah pada Kamis pagi bergerak melemah 52 poin atau 0,29 persen menjadi Rp 18.066 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 18.014 per USD.
“Rupiah melemah bersama mayoritas mata uang Asia seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menekan sentimen risiko di kawasan,” ungkap Josua di Jakarta, Kamis.
Eskalasi konflik yang dimaksud adalah serangan militer AS terhadap Iran, sehingga meredupkan harapan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat di kawasan tersebut.
Eskalasi yang terus berlanjut memunculkan masalah pelayaran yang lebih besar di Selat Hormuz, sehingga memicu kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Timur Tengah (Timteng).
Serangan tersebut juga terjadi tak lama setelah AS menarik konsesi penting yang memungkinkan Iran untuk menjual minyak secara internasional, sebuah langkah yang menandai pasar minyak lebih ketat dalam beberapa pekan mendatang.
Harga minyak mentah turut naik hingga melampaui USD 75 per barel, yang menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Sentimen lain dari rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Juni 2026 turut menegaskan kekhawatiran para pembuat kebijakan terhadap tekanan inflasi yang masih persisten.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah (Timteng).
- Kurs Rupiah Kembali Menguat Ditopang Cadangan Devisa Negara
- Rupiah Menguat di Hadapan USD, Ada Kabar Baik Apa?
- Melemah 114 Poin, Rupiah Makin Gawat, USD Tembus Rp 18.128
- Dar Der Dor, Rupiah Ambruk 34 Poin, USD Tembus Rp 18.014
- Konflik AS-Iran Kembali Memanas, Rupiah Masih Terperosok Hari Ini
- Rupiah Sulit Menguat, Analis Minta Waspadai Eskalasi Geopolitik Timteng
JPNN.com




