Perencana Keuangan Beberkan Trik Agar Mindful Spending Berhasil
jpnn.com, JAKARTA - Setelah pembatasan sosial pandemi Covid-19 berakhir terjadi fenomena lonjakan belanja. Namun, kini tren itu justru berbalik arah menuju perilaku belanja yang jauh lebih hati-hati.
"Waktu pandemi semua keinginan tertahan. Akhirnya ketika pandemi sudah lewat, masyarakat merasa harus balas dendam untuk mengeluarkan spending,” kata perencana keuangan sekaligus edukator Kayleen dalam sesi talkshow soal Mindful Spending, baru-baru ini.
Menurut dia, spending sejatinya tidak selalu negatif, selama sejalan dengan nilai dan tujuan hidup seseorang.
"Spending itu selama itu memang selaras dengan nilai dan tujuan hidup kita, itu enggak masalah kalau memang itu value-based," tutur Kayleen.
Kayleen menilai paparan iklan berulang di media sosial juga dapat mengubah persepsi seseorang terhadap kebutuhannya.
Ia mencontohkan seseorang yang awalnya tidak tertarik membeli sebuah produk, tetapi mulai merasa membutuhkan setelah melihat iklan yang sama berkali-kali.
"Ketika iklan itu lewat lima kali, enam kali, tujuh kali, mulai goyah, kayak kayaknya saya butuh deh," ujar Kayleen.
Maka, berangkat dari fenomena tersebut, Kayleen turut bawakan perihal kerangka pengelolaan keuangan yang umum digunakan, yakni aturan 50:30:20.
Setelah pembatasan sosial pandemi Covid-19 berakhir terjadi fenomena lonjakan belanja. Namun, kini tren itu justru berbalik arah menuju perilaku belanja yang ja
- Sigap Tangani Karhutla, TNI Tuai Apresiasi di Medsos
- Mahasiswa KKN UTA 45 Jakarta Gelar Pelatihan Dasar Komputer untuk Remaja
- Cara Hypermart Rayakan HUT ke-22, Beri Promo Hingga Pengembangan Layanan
- Twitter Comeback, Siap Jadi Penantang Serius Aplikasi X
- Bukan Cuma Belanja, Ada Keseruan Baru! Shopee 9.9 Super Shopping Day Hadirkan Game dan Deretan Promo Menarik
- Pemerintah Dinilai Perlu Memperkuat Mitigasi Serangan Siber di Media Sosial
JPNN.com




