Perkuat Industri Besi & Baja, Menko Airlangga Dorong ASEAN Bersinergi
Dengan jumlah penduduk mencapai 600 juta orang dan ekonomi yang lebih dari USD3 triliun menjadikan kawasan ASEAN pasar yang kuat untuk industri baja dan besi.
Ini juga menjadi momentum ASEAN untuk menjadikan kawasan Indo-Pasifik tetap stabil dan tumbuh di tengah perang tarif antara AS dan Cina.
Lebih lanjut, Menko Airlangga menjelaskan terkait kondisi global yang sedang dihadapi saat ini berupa tantangan pada Oversupply China yang berpotensi dilimpahkan ke Indonesia, serta tantangan pada kebijakan (Carbon Border Adjustment Mechanism/CBAM) Uni Eropa. Hal ini akan membebankan tarif tambahan bagi produk pada karbon, salah satunya baja.
“Kami harus siap untuk itu dan saya berharap Asia Tenggara, besi, dan baja dapat membuat strategi menuju produksi yang lebih berkelanjutan dan lebih hijau. Saya juga setuju dengan Ketua South East Asia Iron and Steel Institute (SEAISI) bahwa kami juga harus membahas tentang teknologi,” kata Menko Airlangga
Menko Airlangga mengatakan bahwa Pemerintah sedang melakukan review terkait regulasi anti-dumping akan produk oversupply yang dikhawatirkan masuk ke pasar Indonesia.
Untuk itu industri nasional harus diperkuat, terutama yang dilakukan integrasi dari hulu ke hilir agar lebih efisien dan diprioritaskan untuk digunakan di dalam negeri. (jpnn)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan ekspor komoditas besi dan baja terus mengalami kenaikan sebesar 22,18%.
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Dedi Sofian, JPNN.com
- President University Bekali 2.500 Mahasiswa Baru Hadapi Tantangan ASEAN dan Dunia
- Tony Saputra: Karhutla Jadi Ancaman Keamanan dan Geopolitik ASEAN
- President University Resmi Jadi Pusat Studi ASEAN ke-70 di Indonesia
- Runjian Perluas Bisnis AI dan Komputasi ke ASEAN, Indonesia Jadi Basis Ekspansi
- Bakery ASEAN Debut di Jakarta, Hadirkan Inovasi ke Asia Tenggara
- Baterai Nusantara: Jalan Mandiri Industri Kendaraan Listrik di Kawasan ASEAN
JPNN.com




