Pernyataan Australia soal Israel Menggempur Lebanon, Semoga Trump Tahu
jpnn.com - MOSKOW – Pemerintah Australia menyampaikan pernyataan terkait langkah Israel melancarkan serangan udara besar-besaran di daerah Dahiyeh, sebelah selatan Beirut, Lebanon, pada Rabu 8 April 2026.
Serangan tersebut tercatat sebagai gelombang terbesar sejak pecahnya konflik antara Israel dan kelompok pejuang Lebanon, Hizbullah, pada 2 Maret lalu.
Dilaporkan, jumlah korban tewas akibat serangan Israel sebanyak 254, termasuk 92 di Beirut.
Pemerintah Australia meyakini bahwa Lebanon harus dimasukkan dalam kesepakatan gencatan senjata di Timur Tengah.
"Pemerintah Australia juga sangat yakin bahwa (kesepakatan gencatan senjata) ini juga harus berlaku untuk Lebanon," kata Perdana Menteri Anthony Albanese pada Kamis (9/4).
Australia, kata Albanese, ingin melihat perdamaian di seluruh Timur Tengah.
"Dan saya tahu bahwa banyak warga Australia prihatin dengan peristiwa yang terjadi di Lebanon. Ini bukan hanya masalah dampak di sana, tetapi juga dampak yang ditimbulkannya di seluruh dunia," tutur Albanese.
Canberra menyambut baik kesepakatan AS dan Iran memberlakukan gencatan senjata selama dua minggu yang bertujuan untuk membuka ruang perundingan guna menyelesaikan konflik regional.
Pemerintah Australia menyampaikan pernyataan sebagai respons sikap Israel yang menyerang Lebanon secara besar-besaran pada Rabu (8/4).
- Iran Larang Pengiriman Senjata AS Lewat Selat Hormuz
- Xi Ingin Jadi Mitra Amerika, Trump Sebut China Luar Biasa
- Ini yang Perlu Anda Ketahui tentang Pengumuman Anggaran Australia
- Rupiah Melemah Lagi ke Rp17.483 karena Harapan Damai AS-Iran Meredup
- Kurs Rupiah Makin Ambyar, USD Menyentuh Rp 17.493,45
- 5 Negara Mundur dari Eurovision 2026 Akibat Keikutsertaan Israel
JPNN.com




